Setetes Hikmah Habib Abdullah Al-Haddad

Setetes Hikmah: Hati yang Tenang di Tengah Pujian dan Celaan — Habib Abdullah Al-Haddad

Di antara tanda-tanda kebijaksanaan seorang muslim adalah mampu membaca intention di balik ucapan orang kepadanya. Sebelum membakar diri dengan pujian, hendaknya ia bertanya: apakah ini benarbenar layak dipuji, ataukah hanya ungkapan emosi sesaat?

“Barang siapa di kala senang suka memujimu dengan kebaikan yang tidak pernah kau lakukan, maka saat marah nanti, dia pasti akan mencelamu dengan keburukan yang tidak pernah kau lakukan.”

Kata-kata ini merupakan salah satu Setetes Hikmah berharga dari Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, ulama besar bahan abe dari Hadramaut, Yaman, yang dikenal luas melalui karya-karya ilmiahnya seperti An-Nashaih ad-Diniyah, Adab as-Suluk al-Murid, Al-Hikam, serta Ratib al-Haddad yang masih banyak diamalkan hingga hari ini.

Memahami Makna di Balik Kata-Kata

Setiap Setetes Hikmah yang disampaikan oleh para ulama memiliki lapisan makna yang dalam. Pepatah ini bukan sekadar warning terhadap orang yang bermulut manis — lebih dalam dari itu, ia adalah cermin tentang hakikat hubungan antarmanusia. Ketika seseorang sedang berbunga-bunga, suasana hatinya hangat, dan lingkungan mendukung, tidak jarang ia terpedaya oleh kata-kata yang bahkan tidak sesuai dengan realitas.

Pujian yang tidak dilandasi pengetahuan yang sebenarnya tentang seseorang itu berbahaya karena dua hal:

  • Pertama, ia membangun ekspektasi yang tidak realistis — baik pada diri sendiri maupun pada orang yang dipuji.
  • Kedua, ia menyimpan potensi kekecewaan yang besar. Saat suasana berubah, sentimentality tadi berbalik menjadi senjata. Apa yang dulu dipuji, kini dicela — tanpa dasar yang juga tidak benar.

Hikmah di Balik Nasihat Ini

Para ulama Aswaja mengajarkan bahwa menjaga lisan adalah sebagian dari menjaga iman. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 83:

“…dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada semua orang…”

Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap diri manusia punya cela dan kelemahan. Orang yang verdaderamente mengenal dirinya akan tahu bahwa pujian orang terhadap kebaikannya adalah anugerah, bukan hak yang harus ditagih. Dan celaan mereka terhadap keburukan yang tidak dilakukannya — pun adalah ujian, bukan alasan untuk membenci.

Prinsip Hidup dari Habib Abdullah Al-Haddad

Kitab An-Nashaih ad-Diniyah karangan Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad sarat dengan Setetes Hikmah praktis tentang bagaimana seorang muslim menjaga hubungan sosialnya. Berikut beberapa poin penting:

  • Jaga niat — setiap amalan tergantung niatnya. Jangan biarkan pujian orang mengubah arah niat baik kita.
  • Sikap tengah (wasathiyah) — jangan mudah terbawa suasana, baik saat dipuji maupun dicole. Keduanya bisa menyesatkan.
  • kembali kepada Allah — ketika menghadapi kata-kata manis atau pahit, gantilah dengan dzikir dan istighfar.

Penutup

Semoga Setetes Hikmah dari Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad ini bermanfaat untuk kita semua. Jadikan sebagai pengingat bahwa manusia tempatnya lupa dan salah — termasuk diri kita sendiri. Semoga Allah memberikan kita kecerdasan emosional untuk menyaring setiap kata yang masuk dan keluar, serta ketenangan hati yang tidak mudah goyah oleh pujian maupun celaan.

Ya Allah, titipkanlah dalam hati kami kebijaksanaan untuk membaca niat yang benar, dan limpahkanlah ke atas kami ujian yang mengembalikan kami kepada-Mu.


Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang diterima redaksi majelis.info. Kami hanyalah penyampai — bila ada kekeliruan dalam nama, gelar, waktu, atau tempat, mohon koreksinya melalui:

  • Kolom komentar di bawah
  • Email: redaksi@majelis.info
  • WhatsApp: 628999150143

Jazakumullah khairan katsira.

Leave a reply