yt thumb tafsir Tafsir Surat Al-Hajj: Makna (Innal Insana Lakafoor) Menurut Habib Umar bin Hafidz

Tafsir Surat Al-Hajj: Makna (Innal Insana Lakafoor) Menurut Habib Umar bin Hafidz

Bismillahirrahmanirrahim.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hajj:

(Innal insana lakafoor)

Terjemah: “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (kufur) terhadap nikmat-nikmat Tuhannya.”

Tafsir yang sangat mendalam dari Al-Allamah Al-Habib Umar bin Hafidz dalam Pengajian Tafsir Quran Mingguan menjelaskan: manusia yang benar-benar beriman kepada Allah, mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, dan menegakkan adab dalam ketaatan kepada-Nya — maka hilangkanlah dari dirinya segala sifat ingkar dan kufur terhadap nikmat.

Makna (Innal Insana Lakafoor) Secara Linguistik

Dalam bahasa Arab, kata al-insan (manusia) berasal dari kata al-ins yang bermakna lemah dan ketergantungan. Kata lakafoor berasal dari akar kata ka-fa-ra yang mengandung makna ingkar dan tutup. Kombinasi keduanya menghasilkan makna yang sangat dalam: manusia secara natural cenderung ingkar terhadap nikmat yang diberikan Tuhan-nya.

Namun penting untuk dipahami bahwa ingkar di sini bukan berarti kufur dalam arti syirik atau keluar dari Islam. Yang dimaksud adalah sifat lupa dan tidak mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Seorang Muslim bisa saja tanpa sadar melupakan betapa besar nikmat yang ia terima setiap hari — mulai dari nikmat kesehatan, keluarga, rezeki, hingga kesempatan untuk beribadah.

Sikap Manusia yang Ingar Nikmat

Al-Habib Umar bin Hafidz menjelaskan bahwa sifat ingkar nikmat terbagi dalam beberapa tingkatan:

  1. Nikmat yang dilupakan — nikmat yang sudah berlalu namun tidak pernah disyukuri, seperti masa muda yang produktif atau kesehatan yang pernah dimiliki.
  2. Nikmat yang dianggap biasa — nikmat yang sudah menjadi rutinitas sehingga tidak lagi dihargai, seperti air bersih, makanan sehari-hari, atau udara yang segar.
  3. Nikmat yang disia-siakan — nikmat yang tidak digunakan untuk ketaatan kepada Allah, seperti ilmu yang tidak diamalkan atau harta yang tidak dizakatkan.

Keutamaan Mensyukuri Nikmat

Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim: 7:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Lihatlah kepada orang yang di bawah kamu, jangan melihat kepada orang yang di atas kamu — karena hal itu lebih mencegah kamu dari meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepadamu.”

Hadits ini mengajarkan bahwa salah satu cara mensyukuri nikmat adalah dengan menggunakan nikmat untuk membantu sesama — bukan hanya memikirkan apa yang belum kita miliki, tetapi juga betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan yang mungkin sudah kita lupakan.

Bagaimana Memperbaiki Sifat Ingar Nikmat?

Al-Habib Umar bin Hafidz memberikan beberapa panduan praktis untuk memperbaiki sifat ingkar nikmat:

  • Berdzikir setiap pagi dan petang — bersyukur atas nikmat yang masih ada, bukan meratapi nikmat yang telah pergi.
  • Membandingkan diri dengan orang yang lebih membutuhkan — ini bukan untuk menyiksa diri, melainkan untuk membuka mata betapa besar karunia Allah kepada kita.
  • Menggunakan setiap nikmat untuk ketaatan — nikmat harta untuk sedekah, nikmat ilmu untuk mengajarkan kepada autres, nikmat kesehatan untuk beribadah.
  • Membiasakan ucapan syukur — ucapkan alhamdulillah dengan penuh kesadaran, bukan sekadar kebiasaan lisan.

Intisari Tafsir Innal Insana Lakafoor

Pesan utama dari tafsir Surat Al-Hajj ayat 66 tentang Innal insana lakafoor adalah bahwa manusia secara natural cenderung lupa dan ingkar terhadap nikmat Tuhannya. Namun dengan kesadaran yang terus-menerus dan latihan bersyukur, kita bisa memperbaiki sifat ini dan menjadi hamba yang benar-benar menghargai setiap karunia Allah SWT.

Ingatlah selalu: setiap nikmat yang kita miliki adalah amanah dari Allah. Penggunaan nikmat tersebut akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Jadi, gunakanlah setiap nikmat dengan penuh kesadaran dan syukur.

Hubungan Ingar Nikmat dengan Sikap Syukur

Sikap ingkar nikmat dan sikap syukur adalah dua sisi yang berlawanan. Sifat syukur (syafiqah) artinya mengakui bahwa setiap nikmat yang kita terima berasal dari Allah semata, bukan dari usaha sendiri atau kebetulan. Orang yang bersyukur adalah orang yang menggunakan setiap nikmat untuk kembali kepada Allah.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Naml: 40:

“Berucaplah: ‘Segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.’ Apakah Allah yang lebih baik ataukah sekutu-sekutu yang mereka sembah selain-Nya?”

Ayat ini menegaskan bahwa segala nikmat berasal dari Allah semata. Bukan dari rezeki yang kita cari dengan tangan kosong — melainkan karena Allah yang memberikan kesempatan, kesehatan, dan keberkahan dalam usaha kita.

Peringatan bagi yang Ingar terhadap Nikmat

Al-Habib Umar bin Hafidz mengingatkan bahwa sifat ingkar nikmat jika dibiarkan akan berkembang menjadi keberkahan yang hilang. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal: 53:

“Yang demikian itu adalah karena mereka membenci apa yang diturunkan Allah (Al-Quran), maka Allah menghapus amal-amalnya.”

Keberkahan hidup seseorang sangat erat hubungannya dengan sikap syukurnya. Jika kita tidak bisa bersyukur atas nikmat yang kecil, maka Allah tidak akan memberikan nikmat yang besar. Ini adalah sunnatullah yang berlaku di alam semesta.

Amalan Praktis untuk Menumbuhkan Syukur

Berikut amalan-amalan praktis yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan sifat syukur danmenjauhi sifat ingkar nikmat:

  • Menghitung nikmat setiap malam — sebelum tidur, sebutkan 3-5 nikmat yang Allah berikan hari ini. Ini melatih otak untuk fokus pada positif, bukan pada apa yang kurang.
  • Menginfakkan sebagian nikmat — mensyukuri nikmat harta dengan mengeluarkan zakat, infak, atau sedekah. Ini membuka keberkahan, bukan menguranginya.
  • Mengajarkan ilmu kepada autres — mensyukuri nikmat ilmu dengan membagikannya. Ilmu yang tidak diamalkan akan hilang, ilmu yang dibagikan akan berkah.
  • Mendoakan orang lain dengan tulus — ini adalah salah satu bentuk syukur yang paling tinggi, karena kita mengakui bahwa semua kebaikan berasal dari Allah.

Wallahu a’lam bish-shawab.


Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang diterima redaksi majelis.info. Kami hanyalah penyampai — bila ada kekeliruan dalam nama, gelar, waktu, atau tempat, mohon koreksinya melalui:

  • Kolom komentar di bawah
  • Email: redaksi@majelis.info
  • WhatsApp: 08999150143

Jazakumullah khairan katsira.

Leave a reply