Mengenal Sosok Ustadzah Dr. Hj. Siti Suryani Thahir
Ustadzah Dr. Hj. Siti Suryani Thahir adalah seorang ulama perempuan terkemuka dari Betawi yang mendedikasikan hidupnya untuk dakwah dan pendidikan Islam. Kiprahnya, terutama dalam merevitalisasi majelis taklim, telah memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan umat, khususnya kaum ibu di Jakarta dan sekitarnya. Beliau dikenal sebagai pendiri dan pimpinan Majelis Taklim Attahiriyah yang fenomenal.
Masa Kecil dan Pendidikan Dasar
Lahir pada 1 Januari 1940 di Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, Hj. Suryani merupakan putri dari pasangan KH. Thahir Rahili dan Salbiyah Ramli. Kakeknya adalah seorang tokoh Betawi yang disegani pada masanya. Lingkungan keluarga yang religius membentuk fondasi keilmuan beliau sejak dini.
Pendidikan formalnya dimulai di SR Bukit Pasirduri pada tahun 1947. Di sore hari, beliau menimba ilmu agama di Madrasah Dinniyah Awwaliyah As-Syafi’iyah, Bali Matraman, di bawah bimbingan langsung Al-Maghfurlah KH. Abdullah Syafi’i. Meskipun ayahnya telah mendirikan sekolah Sa’dutthoriqain (yang kemudian menjadi Attahiriyah) sejak 1939, pengalaman belajar di berbagai tempat memperkaya wawasannya.
Perjalanan Intelektual ke Padang Panjang dan Mesir
Untuk memperdalam ilmunya, Hj. Suryani melanjutkan studi ke Diniyah Putri di Padang Panjang, Sumatera Barat, selama tiga tahun. Setelah itu, ayahnya mengirim beliau bersama delapan saudaranya untuk menuntut ilmu di Timur Tengah. Hj. Suryani bersama Syuqi, Anwar Sadat, Nonon Thoyibah, dan Dardiriyah belajar di Mesir, sementara saudara-saudaranya yang lain tersebar di Mekah, Madinah, Irak, dan Suriah.
Sebelum mukim di Mesir, beliau menikah dengan Syatiri Ahmad, seorang sarjana IAIN Sunan Kalijaga yang juga mendapatkan beasiswa ke Universitas Al-Azhar, Kairo. Di Mesir, Hj. Suryani menempuh pendidikan di Kuliyatu li Al-Banat jurusan Dirasah Islamiyah. Pasangan suami istri ini tinggal di Mesir selama kurang lebih delapan tahun untuk menimba ilmu.
Merintis dan Mengembangkan Majelis Taklim Attahiriyah
Sekembalinya dari Mesir, Hj. Suryani memulai dakwahnya dengan membuka pengajian kecil di rumahnya. Awalnya, pengajian ini hanya diikuti oleh sekitar 12 orang. Namun, berkat kedalaman ilmu dan metode pengajarannya yang menarik, jumlah jamaah terus bertambah hingga tersebar di seluruh Jabodetabek.
Melihat antusiasme yang tinggi, beliau meresmikan berdirinya Majelis Taklim Kaum Ibu Attahiriyah (MTKIA). Dibantu oleh suaminya, beliau juga mengembangkan pendidikan agama dengan mendirikan kursus bahasa Arab dan agama.
Inovasi dalam Metode Pengajian
Salah satu kunci keberhasilan Majelis Taklim Attahiriyah adalah inovasi dalam metode pengajaran yang diterapkan oleh Ustadzah Suryani Thahir. Beliau mengubah pendekatan tradisional dalam pengajian kitab kuning, di mana murid biasanya hanya pasif mendengarkan (“ngaji nguping”).
Beliau memperkenalkan metode yang lebih interaktif:
- Memberi kesempatan kepada anggota majelis untuk membaca sendiri kitab kuning yang dikaji.
- Membuka sesi dialog interaktif setelah penjelasan materi.
- Menghadirkan penceramah atau dosen tamu dari kalangan pakar, seperti DR. Nachrowi Abdussalam, Dr. Wahfiudin, dan Dr. Mulya Tarmidzi untuk memperkaya wawasan jamaah.
Dengan sentuhan akademis ini, majelis taklim yang monoton diubah menjadi forum ilmu yang dinamis dan relevan dengan perkembangan zaman.
Wafatnya Sang Pelopor
Umat Islam Jakarta berduka atas wafatnya Ustadzah Dr. Hj. Siti Suryani Thahir pada hari Sabtu, 5 September 2015, pukul 03.30 dini hari. Kabar duka ini mengundang ucapan belasungkawa dari berbagai tokoh.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Turut berduka cita atas wafatnya DR. Hj SURYANI THAHIR (Pimpinan Yayasan Assuryaniyah Kp.Melayu Jakarta),” tulis Ahmad Syaikhu, yang saat itu menjabat Wakil Walikota Bekasi.
“Minta doa untuk ustadzah Hajjah Suryani Thaher. Ustadzah besar negeri ini,” ujar KH. Yusuf Mansur melalui akun Twitternya.
Jenazah beliau dishalatkan di Masjid Attahiriyah, Kampung Melayu, dan dimakamkan di Assuryaniah Islamic Center, Cimuning, Bekasi. Perjuangan dan warisan ilmunya dalam mencerdaskan umat akan selalu dikenang.