Indonesia: Benteng Utama Manhaj Salaf
Dalam pengajiannya di Majelis Ta’lim Al-Afaf, Tebet, Jakarta, Dr. Al-Habib Abu Bakar al-Masyhur al-Adny menekankan betapa pentingnya peran Indonesia. Patut disadari bahwa Indonesia adalah salah satu benteng utama dalam menjaga dan melestarikan manhaj salaf—metode dakwah para pendahulu yang ikhlas menyebarkan ajaran agama sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Metode tersebut, menurut beliau, terlihat jelas tertanam dalam karakter penduduk negeri ini yang lemah lembut, ramah, dan berbaik sangka terhadap sesama Muslim. Ini adalah buah dari perjuangan para salaf dari Hadhramaut yang melintasi samudra, menantang maut, demi menyelamatkan umat di penjuru nusantara dengan ajaran agama yang membawa kedamaian, ketenteraman hati, dan kasih sayang.
Peran Penting Majelis Ilmu
Habib Abu Bakar al-Masyhur juga mengingatkan untuk bersyukur dapat menghadiri majelis ilmu yang melestarikan metode dakwah salaf, seperti yang didirikan oleh Al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf. Sejak dahulu, para salaf mendirikan majelis-majelis untuk mendidik jamaah yang menempuh jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara yang benar dan terarah.
“Setiap orang yang hadir di majelis ini memetik dan memberi berkah kepada sesama,” jelas beliau. Majelis semacam ini adalah salah satu syiar agama Allah SWT yang patut diperhatikan, sebagaimana rangkaian ibadah haji, umrah, puasa, zakat, berbakti pada orang tua, dan mempererat silaturahim.
Waspada Godaan Media dan Penyebab Musibah
Di sisi lain, beliau mengingatkan agar umat waspada terhadap serangan dan rayuan media massa, baik cetak maupun elektronik. Dengan berbagai perangkatnya, media setiap saat dapat menggoda dan mempengaruhi generasi umat agar lalai dan silau dengan gemerlap dunia, hingga lupa akan masa depan akhirat dan ajal yang menjemput tanpa aba-aba.
Beliau menegaskan bahwa musibah dan bala yang saat ini menimpa kaum Muslimin di berbagai belahan dunia disebabkan oleh berpalingnya umat Islam dari mengingat Allah SWT dan Rasul-Nya, bahkan menggantikannya dengan perhatian kepada hal-hal yang fana. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an mengenai diazabnya kaum Saba’:
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit pohon Sidr.” (QS. Saba’: 16)
Sungguh, berpaling dari dzikrullah dapat menyebabkan turunnya kemurkaan dan azab Allah SWT.
Kekuatan Doa dan Intisari Manhaj Salaf
Oleh sebab itu, melalui keberkahan majelis, mari kita bersama-sama berdoa semoga Allah SWT mengangkat perselisihan dan peperangan di antara kaum Muslimin, dan menggantikannya dengan keamanan serta kesejahteraan. Jangan pernah melupakan untuk mendoakan saudara sesama Muslim di dalam sujud dan ibadah kita.
“Jangan pernah putus asa berdoa karena itu sifat orang-orang yang merugi,” pesan Habib Abu Bakar. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak karena doamu’.” (QS. Al-Furqan: 77)
Sebagai pengikut manhaj salaf, hendaknya kita senantiasa menjaga dzikir, shalawat kepada Nabi SAW, dan amaliah salaf sehari-hari. Beliau mengingatkan agar para pengikut manhaj salaf tidak hanya memberikan perhatian pada simbol dan atribut dakwah seperti pakaian, namun lalai dalam berperilaku dan beramal saleh yang merupakan inti dari dakwah itu sendiri.
Di zaman ini, jika seseorang merasa tidak memiliki syekh atau guru pembimbing, maka hendaknya ia memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW. Dengan begitu, akan tertanam dalam sanubarinya bahwa Rasulullah SAW adalah panutan dan pembimbing utama dalam menempuh jalan menuju Allah SWT.
4 Waktu Utama untuk Diamalkan Menurut Para Salaf
Para salaf dalam metode pendidikannya selalu mengingatkan agar memakmurkan empat waktu utama dalam sehari semalam. Empat waktu ini adalah tonggak untuk membangun generasi dalam manhaj salaf:
- Saat Akhir Malam
Sepatutnya kita mengikuti jejak salaf untuk bangun malam, walaupun hanya 15 menit, untuk shalat dan berdoa. - Setelah Subuh hingga Terbit Matahari
Para salaf mengisinya dengan berdzikir, dilanjutkan dengan halaqah ilmiah untuk mempelajari bahasa Arab, Fikih, atau ilmu lainnya. - Setelah Shalat Ashar hingga Maghrib
Waktu ini biasa dimakmurkan dengan majelis ‘Rauhah’ yang terbuka untuk umum, guna menyegarkan hati dengan nasihat guru serta menyerap adab dan sopan santun. - Antara Maghrib dan Isya
Waktu ini dimakmurkan dengan membaca Al-Qur’an, muraja’ah (mengulang) kitab tafsir, dan menambah wawasan keilmuan di berbagai bidang agama.
Marilah kita bersama berniat dengan sungguh-sungguh untuk dapat mengikuti jejak salaf kita dalam memakmurkan empat waktu tersebut, agar kita kelak diakui oleh mereka sebagai pengikut yang berpegang teguh pada ajarannya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.