Pendahuluan: Memahami Kedudukan Rasulullah SAW
Mencintai Rasulullah Muhammad SAW adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan. Salah satu cara untuk menumbuhkan dan memperkuat cinta tersebut adalah dengan mengenal keutamaan dan kedudukan mulia yang Allah SWT berikan kepada beliau. Keutamaan ini tidak hanya mengangkat derajat beliau, tetapi juga menjadi bukti keagungan risalah yang dibawanya.
Artikel ini merangkum penjelasan dari Syeikh Muhammad Ba’athiyah, Rektor Imam Shafie College, Hadhramaut, Yaman, dalam kitabnya “Mujazul Kalam” yang merupakan syarah (penjelasan) atas Nadzom “Aqidatul Awam” karya Sayyid Ahmad Al-Marzuqi. Disadur oleh Imam Abdullah El-Rashied.
1. Risalah Universal untuk Seluruh Alam
Sayyid Ahmad Al-Marzuqi menyebutkan dalam nadzomnya:
نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ قَدْ أُرْسِلَا – لِلْعَالَمِيْنَ رَحْمَةً وَفُضِّلَا
“Nabi kita Muhammad SAW telah diutus untuk alam semesta sebagai rahmat, dan beliau telah diberi keutamaan (oleh Allah SWT).”
Risalah Nabi Muhammad SAW bersifat universal, mencakup seluruh alam semesta—yakni segala sesuatu selain Allah SWT. Risalah ini ditujukan untuk seluruh makhluk, termasuk jin, manusia, malaikat, bahkan benda mati. Bagi jin dan manusia, risalah ini adalah Risalah Taklif (kewajiban syariat). Bagi malaikat, ia adalah Risalah Tasyrif (kemuliaan). Dan bagi makhluk lain, ia adalah Risalah Ta’rif (pengenalan).
Siapa pun yang mengingkari sifat universal risalah beliau, seperti sekte ‘Isawiyah dari kalangan Yahudi yang mengklaim Nabi Muhammad hanya diutus untuk bangsa Arab, maka ia telah kafir. Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلَّناسِ
“Tidaklah kami mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk semua manusia.” (QS. Saba’: 28)
2. Lima Keistimewaan Khusus Rasulullah SAW
Nabi Muhammad SAW dianugerahi keistimewaan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya. Hal ini menegaskan kedudukan beliau yang agung. Beliau bersabda:
أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِيْ: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ, وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا, فَأَيُّمَا رَجُلٌ مِنْ أُمَّتِيْ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ, وَأُحِلَّتْ لِي الْغَنَائِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ مِنْ قَبْلِيْ, وَأُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةَ, وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النِّاسِ كَافَّةً
“Aku telah diberi 5 keistimewaan yang tidak diberikan kepada seorang pun dari para Nabi sebelumku:
- Aku diberi pertolongan dengan rasa takut yang ditanamkan pada musuh dalam jarak sebulan perjalanan.
- Bumi dijadikan masjid (tempat sujud) dan suci bagiku, maka di mana pun waktu shalat tiba bagi umatku, hendaknya ia shalat.
- Ghanimah (harta rampasan perang) dihalalkan untukku, padahal tidak pernah dihalalkan untuk seorang nabi pun sebelumku.
- Aku diberikan Syafa’at (kelak di hari Kiamat).
- Dahulu seorang Nabi hanya diutus khusus untuk kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari & Muslim)
3. Janji Para Nabi untuk Beriman kepada Beliau
Keagungan Nabi Muhammad SAW bahkan telah diumumkan di hadapan para nabi dan rasul terdahulu. Allah SWT mengambil janji dari mereka untuk beriman dan menolong Rasulullah SAW jika mereka sempat bertemu dengan zaman beliau. Hal ini termaktub dalam firman-Nya:
وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَا أَتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرَنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكَ إِصْرِيْ قَالُوْا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوْا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari para nabi, ‘Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu, lalu datang kepada kamu seorang Rasul (Muhammad) yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.’” (QS. Ali Imran: 81)
4. Pemimpin Seluruh Anak Adam (Sayyid Walad Adam)
Rasulullah SAW adalah manusia paling mulia dan pemimpin seluruh umat manusia, khususnya di hari Kiamat. Banyak hadits yang menegaskan hal ini, di antaranya:
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَأَوَّلُ مَنْ يُشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ, وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَمُشَفَّعٍ
“Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari Kiamat, aku adalah orang yang pertama kali kuburannya terbelah, dan aku adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at dan diterima syafa’atnya.” (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, beliau merinci kemuliaannya:
أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ خُرُوْجًا إِذَا بُعِثُوْا, وَأَنَا خَطِيْبُهُمْ إِذَا وَفَدُوْا, وَأَنَا مُبَشِّرُهُمْ إِذَا يَئِسُوْا. لِوَاءُ الْحَمْدِ يَوْمَئِذٍ بِيَدِيْ, وَأَنَا أَكْرَمُ وَلَدِ آدَمَ عَلَى رَبِّيْ وَلاَ فَخْرَ
“Aku adalah manusia pertama yang keluar (dari kubur) saat dibangkitkan, aku adalah juru bicara mereka saat mereka datang, dan aku pemberi kabar gembira saat mereka putus asa. Bendera Pujian (Liwa’ul Hamd) pada hari itu ada di tanganku, dan aku adalah anak Adam yang paling mulia di sisi Tuhanku, namun aku tidak sombong[1].” (HR. Tirmidzi)
Kesimpulan
Dalil-dalil dari Al-Quran dan Hadits di atas secara jelas menunjukkan kedudukan Nabi Muhammad SAW yang lebih utama dibandingkan seluruh nabi dan rasul lainnya. Keyakinan ini merupakan bagian dari akidah seorang muslim. Semoga dengan memahami keutamaan beliau, kita semakin termotivasi untuk meneladani akhlaknya dan memperbanyak shalawat kepadanya.
[1] Ungkapan “aku tidak sombong” atau “tidak bangga” adalah bentuk ketawadhu’an Nabi Muhammad SAW saat menyampaikan nikmat dan kedudukan yang Allah berikan kepadanya.