Sunnah Rasulullah SAW, Mentahnik Bayi saat Lahir

Tahnik: Sunnah yang Dilihat dari Sisi Sains, Aman Gak Sih?

Hakikat dan Hikmah Mendalam: Mensyukuri Hadiah Alloh dalam Kelahiran Sang Buah Hati

Segala puji hanya milik Alloh, Rabb semesta alam, yang telah menganugerahkan kepada kita keturunan sebagai buah hati dan harapan di tengah kehidupan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga dan sahabatnya yang mulia hingga hari kiamat.

Salah satu keindahan ajaran Islam adalah bahwa setiap moments dalam kehidupan seorang Muslim telah dibingkai dengan sunnah-sunnah yang penuh hikmah. Ketika seorang bayi baru menyentuh dunia ini, Islam telah mengajarkan kita sebuah tradisi yang bernama tahnik—suatu amalan sederhana namun mengandung makna spiritual dan kesehatan yang mendalam.

Di tengah perkembangan zaman modern, pertanyaan pun muncul: apakah tahnik masih relevan dengan standar kesehatan kontemporer? Sebagian kalangan mungkin menganggapnya sekadar ritual kuno, sementara yang lain justru membuktikan bahwa sunnah ini ternyata selaras dengan temuan ilmu pengetahuan terbaru. Sebenarnya, di situlah letak keagungan syariat Islam—bahwa jauh sebelum ilmu免疫ologi berkembang, Rasulullah SAW telah mengajarkan sesuatu yang kini dibenarkan oleh riset moderen.

Marilah kita bersama menilik hakikat tahnik, merenungi dalil-dalilnya, mendengarkan kalam para ulama, serta memahami panduan praktisnya agar kita dapat mengamalkan sunnah ini dengan pemahaman yang benar dan penuh berkah.

Pendalaman Dalil dan Kalam Ulama: Menelusuri Jejak Sunnah dari Generasi ke Generasi

Secara bahasa, kata tahnik (التحنيك) berasal dari akar kata hanaka yang berarti mengolesi langit-langit mulut. Para ulama mendefinisikannya sebagai mengoleskan kurma yang telah dilunakkan—baik dikunyah maupun direndam—ke mulut bayi yang baru lahir. Amalan ini dilakukan sebagai bentuk menyambut kehadiran sang buah hati ke dalam keluarga Muslim.

Dalam kitab Shahih Bukhari, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan tahnik kepada Hasan dan Husain RA, cucu-cucu beliau yang tercinta. Hadis ini menjadi landasan utama dibolehkannya, bahkan dianjurkannya, amalan tahnik bagi bayi Muslim di seluruh penjuru dunia.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan bahwa tahnik hukumnya mustahab (dianjurkan) berdasarkan sunnah Rasulullah SAW. Beliau menyatakan bahwa mengoleskan sesuatu yang manis ke mulut bayi merupakan bentuk doa dan harapan agar sang anak tumbuh dengan kelimpahan rezeki, sebagaimana manisnya kurma yang menjadi makanan kesukaan Rasulullah SAW.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam Ad-Da’wah Wa Ad-Du’a menulis dengan indah tentang hikmah tahnik: “Betapa agungnya kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya, bahwa bahkan saat seorang bayi baru membuka mata ke dunia ini, beliau telah mengajarkan kita cara memohon keberkahan dan kesehatan untuknya. Tahnik adalah manifestasi nyata dari sabda beliau tentang pentingnya mendoakan yang baik untuk keturunan kita.”

Syekh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai hal-hal yang digunakan untuk tahnik. Meskipun yang paling utama adalah kurma, adapula yang menggunakan madu atau benda manis lainnya. Yang terpenting adalah niat yang ikhlas karena Alloh dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Habib Umar bin Hafidz, salah satu mursyid thariqah di Yemen, dalam pengajiannya sering menekankan bahwa setiap sunnah yang datang dari Rasulullah SAW pasti mengandung hikmah yang mendalam—entah kita sudah memahaminya secara ilmiah atau belum. Beliau mengingatkan bahwa sebagai umat yang beriman, kita hendaknya tidak mudah meragukan sunnah-sunnah nabawi hanya karena kita belum mampu menemukan rasionya dalam keterbatasan ilmu kita.

Ustadzah Halimah Alaydrus, seorang pengajar tafsir di salah satu majelis ilmu di Nusantara, menjelaskan kepada para ibu muda dengan penuh kasih sayang: “Para ibu sekalian, janganlah kalian merasa ragu untuk menahnik anak-anak kalian. Telah datang kepada kami para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, dan mereka semua sepakat akan kebaikan tahnik. Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW mendoakan anak yang ditahnik agar menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada orangtuanya.”

Buah Manis dan Keutamaan: Manfaat Ukhrawi dan Duniawi dari Sunnah Tahnik

Para ulama dan ahli kesehatan telah mengidentifikasi berbagai manfaat dari amalan tahnik ini, baik dari sisi spiritual maupun temporal. Berikut adalah beberapa keutamaan yang perlu kita ketahui:

  • Barakah dalam kehidupan anak: Rasulullah SAW berdoa untuk bayi yang ditahnik agar dilimpahkan keberkahan dalam hidupnya, rezeki yang halal, serta keteguhan dalam iman.
  • Penerusan sunnah nabawi: Dengan menahnik, seorang Muslim telah berpartisipasi dalam menjaga dan meneruskan tradisi yang diajarkan Rasulullah SAW selama empatbelas abad yang lalu.
  • Mempererat hubungan keluarga: Tahnik yang dilakukan oleh ayah atau anggota keluarga terdekat menjadi momen sakral yang mempererat ikatan batin antara bayi dan keluarganya.
  • Pengenalan mikrobioma yang sehat: Dari sisi sains moderen, paparan mikroorganisme dari orang dewasa yang sehat dapat membantu pematangan sistem imun bayi.
  • Kandungan nutrisi dalam kurma: Kurma mengandung gula alami, serat, zat besi, kalium, dan berbagai vitamin yang dibutuhkan tubuh manusia.
  • Pelatihan sistem pencernaan awal: Enzim-enzim dalam air liur dapat membantu melatih sistem pencernaan bayi sejak dini.
  • Membentuk toleransi imun: Penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan terkontrol terhadap mikroba dapat menurunkan risiko alergi dan penyakit autoimun di kemudian hari.

Diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud bahwa Ibn Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW menahnik anak Hasan bin Ali dan berdoa untuknya, lalu berkata: ‘Ya Alloh, berkahilah ia dan ajarkanlah ia kitab-Mu, maafkanlah ia dan anugerahi ia keimanan yang teguh.'” Hadis ini menunjukkan bahwa tahnik bukan sekadar ritual simbolis, melainkan saranaDoa yang powerful bagi masa depan sang anak.

Panduan Amalan Praktis: Langkah Kongkret Mencontoh Sunnah Rasulullah SAW

Setelah memahami hikmah dan keutamaan tahnik, marilah kita ketahui panduan praktis agar amalan kita sesuai dengan sunnah dan bebas dari potensi bahaya. Berikut adalah langkah-langkah yang direkomendasikan oleh para ulama dan tenaga kesehatan:

  • Pastikan orang yang menahnik dalam kondisi sehat: Personen yang melakukan tahnik wajib bebas dari penyakit menular seperti HIV/AIDS, hepatitis, atau infeksi mulut aktif.
  • Kebersihan mulut dan tangan wajib dijaga: Cucilah tangan dengan sabun secara menyeluruh dan pastikan mulut dalam keadaan bersih sebelum melakukan tahnik.
  • Gunakan kurma yang halal dan thayyib: Sebaiknya gunakan kurma yang bagus kualitasnya, bisa dikunyah terlebih dahulu atau direndam hingga lunak.
  • Niat yang ikhlas karena Alloh: Ingatlah bahwa tahnik adalah bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW, bukan sekadar tradisi biasa.
  • Dianjurkan ayah yang menahnik: Para ulama berpendapat bahwa lebih utama apabila tahnik dilakukan oleh ayah kandung bayi, sebagai simbol tanggung jawab beliau dalam membimbing anak.
  • Berdoa dengan Doa yang ma’tsur: Setelah menahnik, bacalah doa untuk bayi agar tumbuh menjadi anak yang shaleh/sholehah, berilmu, dan bermanfaat bagi umat.
  • Jangan memaksakan jika bayi rewel: Jika bayi menangis kencang atau menolak, hentikan sejenak dan coba ulangi dengan perlahan.
  • Simpan rutinitas ini dalam album keluarga: Dokumentasikan momen tahnik sebagai kenangan spiritual yang berharga bagi keluarga.

Perlu diperhatikan bahwa para ibu tidak perlu panik apabila bayi mengalami kenaikan suhu tubuh ringan setelah ditahnik. Menurut para ahli, hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa sistem imun bayi sedang beradaptasi dan belajar merespons rangsangan baru. Namun, jika demam tinggi atau gejala lain muncul, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Ingatlah selalu bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kebodohan atas nama ketaatan. Alloh SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan Dia tidak menjadikannya bagi kamu dalam agama suatu pengharangan” (QS. Al-Hajj: 78). Oleh karena itu, mari kita amalkan sunnah dengan ilmu dan pemahaman yang benar.


Catatan Redaksi: Nashihat dan faedah mulia ini disusun untuk menambah khazanah keilmuan dan keberkahan hidup kita bersama. Semoga bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan para pembaca dapat menyebarkan artikel ini kepada keluarga, sahabat, dan handai taulan agar更多人 mendapat manfaat. Semoga Alloh memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua untuk selalu menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dengan benar. Jazakumullah khairan katsiran atas perhatian dan partisipasi kalian dalam majelis ilmu ini.Billah taufieq wal hidayah.

Rekomendasi Kitab & Perlengkapan Ibadah

Untuk menunjang pendalaman ilmu dan amalan antum, kami merekomendasikan Ratib alatas | Ratib alhaddad | Kitab wirid sholawat Silahul Ghoib Alkifahi.

Lihat Produk »

Leave a reply