June
30 Friday

Syekh Ahmad Nahrawi Al-Banyumasi: Mursyid Agung & Otoritas Keilmuan Nusantara

Fri 30 June 2023 8:00 pm - 11:15 pmAsia/Jakarta
Mapolres Purbalingga
Polres Purbalingga, Jalan Raya Mayjen Sungkono, Karangpoh Kulon, Kalikabong, Purbalingga Regency, Central Java, Indonesia

Description

Pernahkah Anda merasa ada mata rantai sejarah keilmuan Islam di Nusantara yang seolah terputus? Kita sering mendengar nama-nama besar ulama masa kini, namun terkadang lupa pada sosok-sosok raksasa di masa lalu yang menjadi fondasi mereka. Ketiadaan pengetahuan ini membuat kita kehilangan teladan berharga dan pemahaman akan akar tradisi keislaman yang kita amalkan hari ini, seolah tercerabut dari warisan intelektual dan spiritual yang seharusnya menjadi kebanggaan.

Kini saatnya kita menyambungkan kembali benang merah itu. Mari kita selami samudra ilmu dan hikmah dari salah satu ulama paling berpengaruh pada zamannya, Syekh Ahmad Nahrawi Al-Banyumasi. Melalui artikel ini, kita akan mengungkap kembali betapa megah warisan yang beliau tinggalkan untuk Indonesia dan dunia Islam, membuka jendela untuk mengenal lebih dekat sang mursyid Thariqah Syadziliyah sekaligus otoritas keilmuan di Tanah Suci.

Kilas Balik & Hikmah Haul Akbar Seabad di Purbalingga

Pada Jumat, 30 Juni 2023, halaman Mapolres Purbalingga, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu sebuah peristiwa bersejarah. Ribuan jamaah berkumpul dalam acara Haul 100 Tahun Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, sebuah pengajian akbar untuk mengenang seabad wafatnya sang ulama. Acara yang juga bertepatan dengan Hari Bhayangkara Ke-77 ini menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dan K.H. Happy Irianto Setiawan, diiringi lantunan sholawat merdu dari Majelis Az Zahir.

Meskipun acara tersebut telah berlalu, hikmahnya tetap relevan. Ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pengingat kolektif akan pentingnya menghormati dan meneladani para ulama pendahulu. Acara ini membuktikan bahwa api semangat untuk mempelajari warisan Syekh Nahrawi tidak pernah padam, bahkan terus menyala terang hingga generasi sekarang.

Mengenal Sosok Syekh Ahmad Nahrawi: Dari Purbalingga untuk Dunia

Lahir di Purbalingga pada tahun 1276 H (1860 M), beliau pada awalnya diberi nama Mukhtarom. Sebuah nama sederhana yang menyimpan takdir luar biasa. Perjalanan menuntut ilmunya membawanya hingga ke Tanah Suci Makkah, pusat peradaban Islam saat itu. Di sanalah, atas pengabdian dan kecintaannya kepada sang guru, namanya diubah menjadi Nahrawi, nama yang kelak terukir dengan tinta emas dalam sejarah ulama Nusantara.

Beliau bukan hanya seorang penuntut ilmu yang tekun, tetapi juga tumbuh menjadi seorang alim yang disegani. Kedalaman ilmunya membuatnya menjadi rujukan bagi banyak ulama lain, baik dari Nusantara maupun dari berbagai penjuru dunia yang sedang belajar di Haramain.

Otoritas Keilmuan: Peran Sentral dalam Pengesahan Kitab (Taqrizh)

Salah satu kontribusi terbesar Syekh Ahmad Nahrawi adalah perannya sebagai pemberi taqrizh, atau semacam kata pengantar dan pengesahan, terhadap kitab-kitab karya ulama sezamannya. Di masa itu, sebuah taqrizh dari ulama sekaliber Syekh Nahrawi adalah stempel legitimasi dan jaminan mutu keilmuan yang sangat prestisius.

Dua di antara banyak kitab yang mendapat kehormatan disahkan oleh beliau adalah:

  1. Fathul Majid Syarh Jauharatut Tauhid: Sebuah kitab syarah (penjelasan) monumental karya Syekh Husain bin Umar Palembang. Pengesahan dari Syekh Nahrawi menunjukkan pengakuan beliau atas kedalaman ilmu tauhid yang terkandung di dalamnya.
  2. Al-Ajwibatul Makkiyah ‘alal As’ilatil Jawiyyah: Kitab ini berisi kumpulan fatwa dari mufti Makkah, Syekh Abdullah bin Abdurrahman Siraj, yang menjawab berbagai persoalan keagamaan di Nusantara. Fatwa ini secara tegas membela amaliah kaum Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tradisi tahlilan, maulidan, dan ziarah kubur. Dengan memberikan taqrizh, Syekh Nahrawi turut membentengi tradisi keislaman Nusantara.

Mursyid Agung Thariqah Syadziliyah di Tanah Jawa

Selain sebagai seorang ahli ilmu syariat, Syekh Nahrawi juga merupakan seorang Mursyid (guru pembimbing spiritual) Thariqah Syadziliyah. Melalui bimbingan beliaulah, ajaran tasawuf ini menyebar luas di Tanah Jawa pada abad ke-19, dibawa oleh para santri yang telah selesai belajar di Makkah dan Madinah.

Warisan spiritualnya diteruskan oleh murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama-ulama besar dan paku bumi di berbagai daerah di Jawa, di antaranya:

  • KH. Muhammad Dalhar dari Watucongol, Muntilan
  • Kiai Siroj dari Payaman, Magelang
  • KH. Ahmad Ngadirejo dari Klaten
  • Kiai Abdullah bin Abdul Muthalib dari Kaliwungu, Kendal
  • Syekh Abdul Malik dari Kedungparuk Mersi, Purwokerto

Melalui murid-murid inilah, mata rantai sanad keilmuan dan spiritual Syekh Nahrawi terus mengalir, memberikan kesejukan dan pencerahan bagi umat hingga hari ini. Beliau wafat pada tahun 1926 M dalam usia 126 tahun dan dimakamkan di Ma’la, Makkah, sebuah pemakaman terhormat yang menjadi tempat peristirahatan banyak keluarga dan sahabat Rasulullah SAW.

Tanya Jawab Seputar Syekh Ahmad Nahrawi

Siapakah Syekh Ahmad Nahrawi Al-Banyumasi secara singkat?

Beliau adalah seorang ulama besar asal Purbalingga (Banyumas Raya) yang menjadi salah satu ulama Nusantara paling berpengaruh di Makkah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Beliau dikenal sebagai ahli syariat, pemberi pengesahan kitab (muqarrizh), dan seorang Mursyid Thariqah Syadziliyah.

Apa kontribusi terbesar beliau bagi Islam di Nusantara?

Kontribusi terbesarnya adalah memberikan legitimasi keilmuan terhadap karya-karya ulama Nusantara dan membela amaliah Aswaja melalui pengesahan kitab-kitab penting. Selain itu, beliau berperan besar dalam penyebaran Thariqah Syadziliyah di Jawa melalui murid-muridnya yang menjadi ulama-ulama kharismatik.

Mengapa beliau dimakamkan di Ma’la, Makkah?

Beliau menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengajar dan berdakwah di Makkah hingga wafat di sana. Dimakamkan di Ma’la merupakan sebuah kehormatan besar, menandakan tingginya kedudukan dan pengakuan atas kealiman beliau di pusat dunia Islam saat itu.

Apa itu Thariqah Syadziliyah yang beliau ajarkan?

Thariqah Syadziliyah adalah salah satu tarekat sufi (jalan spiritual) mu’tabarah (yang diakui) dalam Islam, yang didirikan oleh Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili. Tarekat ini menekankan pada dzikir, rasa syukur, dan menempuh jalan spiritual tanpa harus meninggalkan kehidupan duniawi.

Kesimpulan: Menjaga Warisan, Meneladani Perjuangan

Mengenang Syekh Ahmad Nahrawi Al-Banyumasi bukan sekadar membuka lembaran sejarah yang usang. Ini adalah upaya untuk menyerap kembali spirit keilmuan, keteguhan prinsip, dan kedalaman spiritual yang beliau wariskan. Beliau adalah bukti nyata bahwa ulama Nusantara memiliki kapasitas intelektual yang diakui dunia internasional. Tugas kita sebagai generasi penerus adalah menjaga warisan ini dengan terus belajar, mengamalkan, dan menyebarkan ajaran Islam yang moderat dan menyejukkan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh beliau dan para ulama pendahulu kita.

Event Calendar

Friday, 30 June 2023

8:00 pm - 11:15 pm  Asia/Jakarta
Closed
Add A Review