Mengobati Hati yang Hampa: Meresapi Getaran Cinta Sayyidina Umar untuk Rasulullah SAW
Pernahkah Anda merasa jauh dari Nabi Muhammad SAW? Di tengah kesibukan dunia, kita sering mengaku cinta, namun hati terasa hampa. Shalawat yang terucap seolah menjadi rutinitas tanpa ruh, dan kisah-kisah kemuliaan beliau terasa seperti dongeng yang tak menyentuh jiwa. Kita tahu beliau adalah sosok agung, tapi getaran cinta dan kerinduan itu sulit sekali dirasakan secara nyata.
Perasaan hampa ini membuat kita gelisah. Kita membaca bagaimana para sahabat menangis tersedu-sedu karena rindu, bahkan sebatang pohon kurma pun merintih saat ditinggalkan oleh beliau. Lalu kita bertanya pada diri sendiri, “Mengapa hatiku begitu keras? Mengapa aku tidak bisa merasakan cinta sedalam itu?” Kekhawatiran pun muncul, jangan-jangan cinta kita hanyalah pengakuan di bibir, bukan getaran tulus dari hati yang akan dikenali oleh beliau di yaumul qiyamah kelak.
Untuk menyuburkan kembali benih cinta yang mungkin kering di dalam hati, tidak ada cara yang lebih baik selain menyelami samudra keagungan Rasulullah SAW melalui mata dan hati para pecinta sejati. Mari kita hadirkan jiwa kita, mengambil hikmah dan meneladani getaran cinta dari sebuah kilas balik yang mengharukan: untaian kata Sayyidina Umar bin Khattab saat Rasulullah SAW wafat, sebagaimana diabadikan oleh Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali dalam mahakaryanya.
Ratapan Rindu Sang Singa Padang Pasir: 5 Poin Ungkapan Cinta Sayyidina Umar
Ketika cahaya alam semesta, Rasulullah SAW, meninggalkan dunia yang fana, alam pun turut berduka. Di tengah isak tangis dan kesedihan yang mendalam, Sayyidina Umar bin Khattab, yang dikenal tegas dan perkasa, meluapkan isi hatinya dengan untaian kata yang sarat akan cinta, pengagungan, dan kerinduan yang mendalam.
-
Kerinduan yang Bahkan Dirasakan Makhluk Tak Bernyawa
Sayyidina Umar memulai ratapannya dengan mengingat sebuah peristiwa agung yang menunjukkan betapa bahkan benda mati pun mencintai Sang Nabi:
“Demi ayah dan ibuku, duhai Rasul, dahulu engkau memiliki sebatang kurma sebagai tempat berpidatomu. Ketika engkau dirikan sebuah mimbar baru untuk menyampaikan pesan-pesanmu kepada masyarakat yang jumlahnya semakin banyak, batang kurma itu pun merintih karena sedih berpisah denganmu. Ia baru tenang dan berhenti merintih, setelah engkau letakkan tanganmu di atasnya. Duhai Rasul, sesungguhnya umatmu lebih pantas untuk merintih rindu kepadamu, saat engkau meninggalkan mereka.”
-
Kemuliaan Tertinggi di Sisi Allah SWT
Beliau kemudian menguraikan betapa istimewanya kedudukan Rasulullah SAW di hadapan Allah, sebuah kedudukan yang tidak pernah diberikan kepada nabi dan rasul lainnya.
“Demi ayah dan ibuku, duhai Rasul, sungguh tinggi kedudukanmu di sisi Allah. Ia jadikan ketaatan kepada-Mu sebagai ketaatan kepada-Nya. Allah ‘Azza Wa Jalla mewahyukan: ‘Barang siapa yang mematuhi Rasul, sungguh ia telah mematuhi Allah.’ (An-Nisâ, 4:80).
Demi ayah dan ibuku, duhai Rasul, sungguh tinggi kedudukanmu di sisi Allah. Ia telah memaafkanmu, sebelum menyebutkan kesalahanmu, sebagaimana tersebut dalam wahyu-Nya: ‘Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang)…’ (At-Taubah, 9:43).
Demi ayah dan ibuku, duhai Rasul, sungguh tinggi kedudukanmu di sisi Allah. Kendati mengutusmu sebagai Nabi yang terakhir, akan tetapi di dalam wahyu-Nya, terlebih dahulu Ia sebut dirimu sebelum mereka: ‘Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nûh, Ibrâhîm, Mûsâ dan ‘Îsâ putera Maryam…’ (Al-Ahzab, 33:7).
Demi ayah dan ibuku, duhai Rasul, sungguh tinggi kedudukanmu di sisi Allah, hingga para penghuni Neraka sangat ingin menjadi orang-orang yang mentaatimu, padahal mereka sedang tersiksa di dalamnya. Mereka berkata: ‘Oh alangkah baiknya andaikata dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.’ (Al-Ahzab, 33:66).”
-
Mukjizat Agung yang Tak Tertandingi
Sayyidina Umar juga membandingkan mukjizat para nabi terdahulu untuk menunjukkan betapa luar biasanya anugerah yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW.
“Demi ayah dan ibuku, duhai Rasul, sungguh, jika Mûsâ putra ‘Imrân dikaruniai Allah sebuah batu yang darinya memancar air laksana sungai, maka apakah hal itu lebih menakjubkan dari jari-jemarimu yang bisa memancarkan air? Jika Sulaimân putra Dâwûd dikaruniai Allah angin yang bergerak secepat perjalanan sebulan, maka apakah hal itu lebih menakjubkan dari Burâq yang menjadi tungganganmu menembus tujuh lapis langit dan kembali sebelum fajar? Jika ‘Îsâ putra Maryam dikaruniai kemampuan menghidupkan orang mati, maka apakah hal itu lebih menakjubkan dari seekor kambing panggang beracun, yang berbicara kepadamu, ‘Jangan engkau memakanku, karena aku beracun.’”
-
Kasih Sayang yang Melampaui Batas
Salah satu aspek yang paling menyentuh dari renungan Sayyidina Umar adalah tentang betapa luasnya kasih sayang dan kesabaran Rasulullah SAW, bahkan kepada mereka yang menyakitinya.
“Demi ayah dan ibuku, duhai Rasul, sungguh, Nûh telah mendoakan kebinasaan bagi kaumnya. Andaikan engkau mendoakan kami seperti itu, niscaya kami semua akan binasa. Namun, walau punggungmu diinjak, wajahmu berlumuran darah dan gigimu tanggal, yang terucap darimu hanyalah kebaikan. Engkau justru berkata: ‘Ya Allah Tuhanku, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.’”
-
Ketawadhu’an Sang Teladan Sempurna
Di puncak kemuliaannya, Rasulullah SAW justru menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Inilah yang membuat Sayyidina Umar semakin terpesona dan mencintainya.
“Demi ayah dan ibuku, duhai Rasul, andaikan engkau hanya mau bergaul dengan orang-orang yang sepadan denganmu, tentulah engkau tidak akan duduk bersama kami. Andaikan engkau tidak menikah kecuali dengan wanita-wanita yang sepadan denganmu, tentulah engkau tidak akan menikahi wanita-wanita kami. Namun, demi Allah, engkau duduk bersama kami, menikahi sebagian wanita kami, mengenakan pakaian dari kulit domba, mengendarai keledai, memboncengkan kami, meletakkan makananmu di atas lantai dan setelah makan engkau jilati jari-jemarimu demi merendahkan diri kepada Allah. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa terlimpahkan kepadamu.”
Tanya Jawab Seputar Renungan Sayyidina Umar
Dari mana sumber teks renungan yang indah ini?
Teks ini merupakan kutipan yang dinukil oleh Hujjatul Islam, Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, dalam kitab mahakaryanya yang sangat terkenal, ‘Ihya Ulumiddin’. Ini adalah bagian dari ekspresi cinta dan duka Sayyidina Umar bin Khattab atas wafatnya Rasulullah SAW.
Siapa yang menerjemahkan dan sering menyampaikan isi pengajian ini di Indonesia?
Teks ini diterjemahkan dan sering menjadi materi pengajian yang disampaikan oleh Al-Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, pengasuh Majelis Ar-Raudhah, Solo. Beliau dikenal luas karena kemampuannya menyajikan kembali khazanah klasik Islam dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat modern.
Bagaimana cara praktis menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW di zaman sekarang?
Beberapa cara utama adalah:
- Mempelajari sirah (perjalanan hidup) beliau secara mendalam untuk mengenal kepribadiannya.
- Berusaha meneladani akhlak mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal-hal kecil.
- Memperbanyak shalawat dengan penuh penghayatan, karena shalawat adalah jembatan penghubung ruhani antara umat dengan nabinya.
Apa hikmah terbesar dari kisah batang kurma yang merindukan Nabi?
Hikmahnya adalah sebagai cermin bagi kita. Jika sebatang pohon yang tidak memiliki akal dan perasaan sekompleks manusia saja bisa merasakan cinta dan kehilangan yang begitu mendalam kepada Rasulullah SAW, maka sudah sepantasnya hati kita sebagai umatnya merasa jauh lebih rindu dan cinta kepada beliau. Kisah ini adalah teguran lembut agar kita senantiasa menyuburkan cinta di dalam hati kita.