Narasumber: Almarhum Habib Munzir Almusawa Editor: Tim Majelis.info Arsip Tausyiah: Senin, 21 Juli 2008 (Tausyiah di Masjid At-Tin)
Ringkasan Utama: Mengenal apa saja Dosa Besar dalam Islam sangat penting agar kita bisa menjauhinya dan selalu mengharap ampunan Allah, dalam tausyiah ini, almarhum Habib Munzir Almusawa (ulama aswaja) menjelaskan tentang tingkatan dosa besar, mulai dari menyekutukan Allah hingga sumpah palsu. Beliau menekankan betapa luasnya ampunan Allah SWT bagi hamba-Nya yang mau bertaubat, serta rahasia bakti kepada orang tua yang pahalanya melebihi jihad.
Pembukaan: Cahaya Iman yang Menerangi Jiwa
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh,
Limpahan puji kehadirat Allah Swt yang mengundang ruh dan jiwa kita untuk mendekat kehadirat-Nya yang menerangi jiwa kita dengan cahaya yang melebihi terang benderangnya cahaya matahari. Cahaya matahari yang tiada akan pernah bisa menembus jiwa dan perasaan, cahaya matahari terbit dan terbenam, cahaya matahari akan berakhir di akhir zaman.
Tabir Rabbul Alamin menerangi jiwa kita dengan cahaya iman, dengan cahaya tauhid, dengan cahaya Laaillahaillallah Muhammad Rasulullah. Cahaya terbesar dan teragung yang melebihi cahaya alam semesta karena cahaya itu menerangi jiwa menuju Allah.
Mengundang sanubari mendekat kehadiratul Rabb, mengundang jiwa untuk menuju taubat, maghfiroh, akhlak, dan kebahagiaan dunia akhirat. Itulah cahaya iman yang terbuka darinya seluruh rahasia rahmat Illahi yang kekal dan abadi.
1. Syirik: Dosa Besar dalam Islam yang Paling Utama
Terbuka dengan kalimat Tauhid, ketika jiwa tidak menyekutukan Allah, tidak menyembah selain Allah, maka terbuka baginya kebahagiaan yang kekal dan baginya datang pengampunan. Sebesar apapun dosanya selama ia tidak menyembah selain Allah, pasti ia akan mencium wanginya surga.
Apa maksud dosa yang tidak dimaafkan? Bersabda Nabiyyuna Muhammad Saw, sebesar-besarnya dosa adalah menyembah selain Allah. Maksud “tidak dimaafkan” di sini adalah jika ia tidak bertaubat dan mati dalam keadaan itu. Namun, jika ia kembali kepada Islam dan bertaubat, pengampunan Allah tidak pernah tertutup bagi para pendosa.
2. Dosa Terbesar Kedua: Membunuh dan Kisah 100 Nyawa
Dosa nomor dua paling besar adalah membunuh. Namun, lihatlah betapa Allah Swt terus mengejar hamba-Nya dengan pengampunan.
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, seorang yang telah membunuh 99 jiwa ingin bertaubat. Ia bertanya pada seorang ulama, namun ulama itu berkata tidak ada ampunan baginya. Maka ia membunuh ulama itu hingga genap 100 nyawa.
Lalu ia disarankan pergi ke kampung orang shalih (ardhusshalihin). Di tengah perjalanan, ia wafat. Malaikat berdebat, namun Allah memerintahkan bumi untuk merapat ke arah tujuannya (kampung orang shalih). Karena jaraknya lebih dekat ke tempat taubat, ia pun diampuni. Begitu luasnya rahmat Illahi, betapa meruginya mereka yang masih meragukan maafnya Allah.
3. Durhaka pada Ayah dan Bunda (Uququl Walidain)
Yang ketiga adalah durhaka pada ayah dan bunda. Menurut Imam Nawawi, yang dilarang adalah menyakiti hati mereka. Jika kita tidak mampu melaksanakan perintah mereka, maka tolaklah dengan lembut, kasih sayang, dan ramah.
Pahala Bakti Melebihi Jihad Rasulullah Saw mengajarkan bahwa bakti kepada orang tua pahalanya melebihi jihad. Ada pemuda yang ingin hijrah, tapi orang tuanya menangis. Rasul Saw memerintahkannya kembali: “Kembali kau pada ibumu, buat mereka tersenyum sebagaimana kau buat mereka menangis, dan dalam perbuatanmu itu ada pahala jihad.”
Kisah Abu Hurairah RA Abu Hurairah menangis karena ibunya belum masuk Islam dan sering mencacinya. Beliau meminta doa Rasulullah Saw. Berkat doa Nabi dan kesabaran Abu Hurairah yang tetap lembut pada ibunya, sang ibu akhirnya mengucap syahadat. Inilah kemuliaan bakti seorang anak.
4. Dosa Keempat: Sumpah Palsu
Sumpah palsu adalah ketika seseorang bersumpah dengan nama Allah untuk menutupi sebuah aib atau menipu. Contohnya, seorang pedagang yang bersumpah barangnya tidak cacat demi keuntungan, padahal ada aibnya. Ucapan ini adalah derajat keempat dari dosa yang paling besar.
Harapan Bagi Para Pendosa
Habib Munzir berpesan agar kita jangan pernah ragu pada maafnya Allah. Selama lisan kita masih mengucap Laa ilaha illallah, maka cahaya iman itu masih ada.
“Betapa meruginya mereka yang masih meragukan maafnya Allah, betapa meruginya mereka yang menolak lamaran Allah untuk mendekat.” — Habib Munzir Almusawa.
Munajat dan Doa Penutup
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, kita bermunajat semoga Allah memuliakan jiwa dan jasad kita.
Yaa Rahman Yaa Rahiim, kami mengadukan dosa kami, kami mengadukan buruknya amal kami, kami mengadukan lemahnya ketaatan kami. Terangi jiwa kami dengan Nama-Mu, terangi hari-hari kami dengan cahaya Nama-Mu…
(Fa kullu jami’an yaa Allah yaa Allah…)
Hadirin hadirat, jangan bosan memanggil nama Allah. Serulah Nama-Nya, lampiaskan kerinduan kita kehadirat-Nya. Semoga Allah menjadikan setiap nafas kita adalah keagungan Nama-Nya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.