(Sebuah Refleksi dari Ceramah Habib Umar bin Hafidz)
Pernah nggak sih? di tengah kesibukan, kamu tiba-tiba berhenti sejenak dan merasa ada yang hampa? Di luar mungkin semua kelihatan baik-baik saja, tapi di dalam hati rasanya ada yang kurang pas. Lalu kamu iseng buka media sosial, melihat teman-teman membagikan momen di Majelis Taklim atau pengajian, dan entah kenapa suasana damai itu terasa sampai ke layar. Kamu pun jadi bergumam sendiri, “Kapan ya, aku bisa merasakan ketenangan seperti itu?”
Niat untuk jadi lebih baik itu pasti ada. Buktinya, mungkin timeline media sosialmu sudah penuh dengan potongan ceramah yang lewat di ‘FYP’. Riwayat pencarianmu di YouTube pun nggak jauh-jauh dari ‘Taman-taman surga’. Kamu menyimpan banyak kutipan dan video, dengan harapan suatu saat bisa benar-benar meresap. Tapi entah kenapa, semua itu terasa hanya sebatas wacana. Niatnya kuat, tapi eksekusinya sering kali tertunda.
Kalau kamu relate dengan perasaan ini, mungkin masalahnya bukan karena niat kita yang kurang, tapi cara kita “belajar” yang ternyata keliru.
Jebakan ‘Produktif’ yang Membuat Kita Jalan di Tempat
Di zaman serba digital ini, kita seperti tenggelam dalam lautan informasi. Belajar apa saja bisa, kapan saja. Tapi kemudahan ini punya sisi lain: kita sering terjebak dalam siklus mengonsumsi konten tanpa henti, tapi tanpa ada perubahan nyata dalam diri. Rasanya memang produktif karena sudah menonton puluhan video, padahal sebenarnya kita hanya window shopping ilmu. Tidak ada yang benar-benar “dibeli” dan dibawa pulang ke dalam hati.
Ini ibarat ingin belajar masak rendang hanya dari video resep. Kamu mungkin hafal semua bahannya, tapi begitu di dapur, kamu akan panik setengah mati saat santannya pecah atau bingung membedakan jahe dan lengkuas. Teori saja tidak akan pernah cukup, kita butuh bimbingan dan praktik langsung.
Titik Terangnya: Kuncinya Bukan di ‘Apa’, tapi di ‘Siapa’
Di sinilah aku teringat sebuah nasihat penting dari Habib Umar bin Hafidz. Beliau mengingatkan bahwa kunci dari sebuah perjalanan ilmu adalah siapa yang memandu kita.
Bayangkan kamu sedang liburan di kota yang asing. Kamu bisa saja membuka Google Maps dan melihat semua rute yang tersedia. Tapi karena terlalu banyak pilihan, kamu malah bingung, berputar-putar di jalan yang sama, dan akhirnya tersesat. Bandingkan jika kamu ditemani seorang pemandu lokal. Dia tidak akan menunjukkan semua jalan. Dia hanya akan membawamu melewati satu jalur terbaik yang paling efisien dan aman untuk sampai ke tujuan.
Habib Umar lalu memberikan contoh nyata lewat kisah Habib Muhammad Al-Haddar, yang menjadi “pemandu” sejati bagi masyarakat di kotanya. Beliau tidak hanya menyampaikan teks dari kitab, tapi juga menjadi bukti hidup dari ilmu yang diajarkannya.
Akhlak sebagai ‘Portofolio’ Nyata, Bukan Sekadar Sertifikat
Seorang pemandu yang baik akan menggeser fokus kita. Tujuan belajar agama bukan lagi untuk mengumpulkan “sertifikat” berupa hafalan atau pengetahuan teoretis, melainkan untuk membangun “portofolio” yang nyata, yaitu akhlak dan karakter. Sama seperti di dunia kerja, perusahaan lebih tertarik pada hasil kerjamu, bukan pada berapa banyak seminar yang kamu ikuti. Begitu pula dalam perjalanan spiritual, yang dilihat adalah jejak kebaikan yang kita tinggalkan.
Habib Muhammad Al-Haddar, misalnya, dikenang bukan hanya karena luas ilmunya, tapi karena pengabdian dan ketulusannya yang luar biasa. Itulah portofolio yang sesungguhnya.

Menjadi ‘Koki’, Bukan Sekadar Pengumpul Resep
Belajar sendirian sering kali membuat kita menjadi “pengumpul resep”. Kita tahu banyak hal, tapi tidak pernah benar-benar ahli. Kita tahu dalil tentang sabar, tapi bingung setengah mati bagaimana cara menerapkannya saat sedang diuji.
Belajar dengan seorang guru itu ibarat magang dengan seorang koki andal. Kamu tidak hanya diajari resep, tapi juga diajari cara “merasakan” bumbu, cara mengimprovisasi masakan, dan yang terpenting, kamu belajar “seni” dan “rasa” dari memasak itu sendiri. Begitulah ilmu agama, ada sebuah “rasa” yang tidak bisa dijelaskan oleh teks dan hanya bisa ditularkan dari hati ke hati melalui seorang guru.
Jadi…
Intinya sederhana: di tengah derasnya arus informasi, mungkin ini saatnya untuk berhenti sejenak dari “mengumpulkan” dan mulailah “mencari” seorang pemandu. Mulailah sebuah perjalanan yang terarah. Karena pada akhirnya, tujuan kita bukanlah untuk tahu segalanya, tapi untuk sampai ke tujuan dengan selamat.
Artikel ini adalah hasil refleksi dan adaptasi dari ceramah Al-Habib Umar bin Hafidz. Untuk pemahaman yang lebih mendalam, Anda dapat menyaksikan ceramah lengkapnya di video berikut:
🎥 الحبيب عمر بن حفيظ: الرابط الروحي والعلمي بين تريم والبيضاء