Dunia Islam kembali berduka. Biografi Habib Umar bin Hamid Al Jailani menjadi sorotan utama umat muslim di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, setelah wafatnya ulama besar ini dalam keadaan yang sangat mulia. Sosok Al-Allamah Habib Umar bin Hamid bin Abdul Hadi Al-Jailani telah berpulang ke Rahmatullah pada hari Jumat yang agung, 4 Sya’ban 1447 H, bertepatan dengan 23 Januari 2026.
Kewafatan beliau menyisakan kisah haru sekaligus kekaguman yang mendalam. Beliau wafat di atas ketinggian, di dalam pesawat, saat sedang menempuh perjalanan dakwah dari Oman menuju Surabaya, Indonesia. Peristiwa ini menegaskan status beliau sebagai sosok yang mewakafkan sisa usianya untuk umat hingga hembusan napas terakhir.
Awal Kehidupan dalam Biografi Habib Umar bin Hamid
Untuk memahami kebesaran sosoknya, kita harus menelusuri masa kecil beliau. Habib Umar bin Hamid dilahirkan pada tahun 1950 (sumber lain menyebut 1946) di desa Al-Hariba (Khuraibah), sebuah wilayah yang tenang di lembah Wadi Doan, Hadhramaut, Yaman.
Beliau lahir dari keluarga yang memiliki akar keilmuan dan kesalehan yang kokoh. Ayahnya, Imam Hamid bin Abdulhadi Al-Jailani, adalah seorang ulama besar yang disegani pada zamannya. Sementara ibunya berasal dari keluarga Baras, sebuah kabilah yang dikenal melahirkan banyak ahli ibadah.
Pendidikan Awal dan Kecerdasan Istimewa
Tanda-tanda kecerdasan (fathanah) beliau sudah tampak sejak usia dini. Di bawah bimbingan langsung sang ayah, Habib Umar kecil tumbuh mencintai ilmu agama. Salah satu fakta menakjubkan dalam biografi Habib Umar bin Hamid Al Jailani adalah beliau tercatat telah dipercaya untuk mengajar di Madrasah Hariba pada usia yang sangat muda, yakni 17 tahun. Sebuah pencapaian yang langka dalam tradisi pendidikan Hadhramaut yang sangat ketat.
Guru-guru pertama beliau di Hadhramaut antara lain adalah Habib Muhammad bin Hadi As-Segaf dan Habib Alawi bin Abdullah bin Syihab, dua tokoh sentral yang menanamkan dasar-dasar fiqh dan tasawuf dalam jiwa beliau.
Hijrah dan Guru-Guru Habib Umar bin Hamid di Makkah
Pergolakan politik dan tekanan rezim komunis di Yaman Selatan pada akhir tahun 1960-an menjadi titik balik dalam perjalanan hidup beliau. Demi menyelamatkan iman dan kebebasan berdakwah, beliau memutuskan untuk berhijrah ke Makkah Al-Mukarramah.
Di Tanah Suci inilah, Habib Umar bin Hamid mematangkan keilmuannya. Beliau berguru kepada para “gunung ilmu” yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah SAW. Beberapa guru utama beliau di Makkah meliputi:
-
Syekh Yasin Al-Fadani: Ulama asal Padang, Indonesia, yang bergelar Musnid ad-Dunya (Pemegang Sanad Dunia). Dari beliau, Habib Umar mendapatkan ijazah sanad hadis yang tinggi.
-
Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki: Ayahanda dari Sayyid Muhammad Al-Maliki, yang mewariskan ketegasan dalam memegang aqidah Ahlussunnah wal Jamaah.
-
Syekh Hasan Mashshat: Pakar ushul fiqh yang membentuk ketajaman logika hukum beliau.
-
Habib Abdul Qadir bin Ahmad As-Segaf: Sosok Qutb Jeddah yang membimbing ruhani beliau.
Interaksi intens dengan Syekh Yasin Al-Fadani inilah yang disinyalir menumbuhkan kecintaan mendalam beliau terhadap muslimin Nusantara.
Kiprah Sebagai Mufti Syafi’iyyah Makkah
Di lingkungan akademis dan keagamaan Makkah, nama Habib Umar bin Hamid menempati posisi yang sangat terhormat. Universitas Al-Ahgaff dan berbagai institusi keislaman internasional secara resmi menyebut beliau sebagai “Mufti Syafi’iyyah di Makkah Al-Mukarramah”.
Gelar ini bukanlah jabatan politis, melainkan pengakuan de facto dari umat dan para ulama. Mengapa beliau digelari demikian?
-
Penguasaan Mazhab: Beliau hafal dan menguasai detail hukum dalam kitab-kitab induk Mazhab Syafi’i seperti Tuhfatul Muhtaj.
-
Kehati-hatian (Wara’): Fatwa beliau selalu berlandaskan pada pendapat yang mu’tamad (kuat) dan penuh kehati-hatian.
-
Rujukan Jamaah: Setiap musim haji, beliau menjadi tempat bertanya bagi ribuan jamaah dari Asia Tenggara, Yaman, dan Afrika Timur yang mayoritas bermazhab Syafi’i.
Beliau juga meninggalkan warisan intelektual berupa karya tulis, di antaranya kitab At-Tadzkir wa Hajatuna Ilaiha dan Syarah Kitab Safinatun Najah yang kini dikaji di banyak pesantren.
Wafatnya Habib Umar bin Hamid Al Jailani di Langit Nusantara
Kisah akhir hayat beliau sungguh menggetarkan hati. Hubungan Habib Umar bin Hamid dengan Indonesia sangatlah erat. Beliau rutin mengunjungi pesantren-pesantren tua di Jawa, termasuk Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, untuk menyambung silaturahmi dan memberikan ijazah ilmu.
Pada Kamis, 22 Januari 2026, beliau bertolak dari Timur Tengah dengan tujuan Surabaya. Niat beliau mulia: menghadiri Haul dan mengunjungi para pecintanya. Namun, Allah berkehendak lain. Di atas pesawat, ruh suci beliau dipanggil kembali oleh Sang Pencipta.
Pemakaman di Samping Habib Kuncung (Kalibata)
Berbeda dengan prediksi awal, jenazah beliau tidak diterbangkan kembali ke Makkah. Berdasarkan keputusan keluarga dan isyarat kemuliaan, jenazah Almarhum dimakamkan di Jakarta.
Pada hari Jumat itu juga, jenazah beliau dikebumikan di Kompleks Makam Habib Kuncung (Habib Ahmad bin Alwi Al-Haddad) di Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan. Habib Muhsin bin Idrus Al-Hamid menyebutkan bahwa posisi makam beliau tepat berada di samping Habib Husein bin Umar Al-Athas.
Pemakaman ini dihadiri oleh lautan manusia yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Keberadaan makam beliau di Jakarta menjadi “hadiah” terakhir beliau untuk umat Islam Indonesia, menjadikan negeri ini sebagai rumah abadi bagi jasad mulianya.
Semoga Allah merahmati Al-Habib Umar bin Hamid Al-Jailani, meninggikan derajatnya, dan memberikan kita taufik untuk meneladani jejak langkahnya. Al-Fatihah.