Dakwah dengan Akhlak: Pelajaran Tasawuf Amali dari Habib Abdurrahman Assegaf

Kilas Balik 2014: Menggali Mutiara Tasawuf Amali Habib Abdurrahman Assegaf

Banyak dari kita mengagumi sosok ulama besar, terpesona oleh kharisma dan dalamnya ilmu mereka. Namun, seringkali kita berhenti pada kekaguman di permukaan, tanpa benar-benar memahami esensi spiritualitas yang mereka jalani sehari-hari. Kita mungkin hafal nama besar Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf, pendiri Madrasah Tsaqafah Islamiyah, namun apakah kita tahu bagaimana beliau mempraktikkan tasawuf dalam setiap helaan napas dakwahnya?

Tanpa pemahaman mendalam ini, kita berisiko hanya menjadi penggemar, bukan peneladan sejati. Ajaran luhur para wali dan ulama bisa menjadi sekadar catatan sejarah, bukan lagi lentera yang menerangi jalan spiritual kita. Konsep tasawuf yang agung pun bisa terasa jauh, rumit, dan terpisah dari kehidupan nyata, padahal ia adalah jantung dari keberagamaan itu sendiri.

Untuk itulah, artikel ini hadir sebagai solusi. Mari kita lakukan sebuah perjalanan kilas balik ke tahun 2014, menyelami sebuah wawancara langka dan penuh hikmah. Melalui kesaksian langsung putra beliau, Al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, kita akan membuka tabir dan menemukan mutiara-mutiara tasawuf amali (praktis) yang menjadi denyut nadi kehidupan dan dakwah Almarhum Al-Habib Abdurrahman Assegaf. Ini adalah kesempatan untuk memahami bukan hanya ‘apa’ yang beliau ajarkan, tetapi ‘bagaimana’ beliau menjalaninya.

See also  Pesan Habib Muhammad Al-Habsyi: Inilah Kunci & Hikmah Majelis Maulid yang Bisa Mengubah Kehidupan

Awal Mula Dakwah yang Menyatu dengan Pendidikan

Perjalanan dakwah seorang ulama seringkali menjadi cerminan dari dedikasinya terhadap ilmu. Hal ini tergambar jelas pada sosok Habib Abdurrahman Assegaf. Menurut penuturan Habib Ali, sang ayah memulai dakwahnya bahkan sebelum beliau menyelesaikan pendidikan formalnya di sekolah Jamiat Kheir. Ini menunjukkan sebuah fakta luar biasa: bagi beliau, proses belajar dan mengajar adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

“Beliau berdakwah sejak beliau belum keluar dari sekolah Jamiat Kheir. Sebab beliau belajar di Jamiat Kheir sampai akhir hayatnya,” ungkap Habib Ali. Pernyataan ini menegaskan bahwa Habib Abdurrahman adalah seorang pembelajar seumur hidup. Medan dakwah pertamanya pun dimulai dari lingkungan terdekat, seperti di sekitar kediamannya di Bukit Duri, hingga merambah ke daerah lain seperti Citayam dan tempat-tempat yang beliau kunjungi.

Esensi Tasawuf Amali: Dakwah Melalui Akhlak dan Perbuatan

Ketika ditanya mengenai metode dakwah ayahnya, Habib Ali menjelaskan bahwa fondasinya adalah pengajaran dasar-dasar agama Islam. Namun, yang membuatnya istimewa adalah cara penyampaiannya yang menyatu dengan praktik tasawuf. Habib Abdurrahman tidak hanya berteori tentang tasawuf, beliau menghidupkannya.

Beliau banyak mengambil inspirasi dari ajaran tasawuf amali yang terkandung dalam karya-karya Shahibur Ratib, Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Imam Al-Haddad dikenal sebagai tokoh pembaru dalam Thariqah Alawiyah yang menekankan pada perbaikan akhlak (moral) dan penguasaan diri, menjauhkan praktik tasawuf dari hal-hal yang berlebihan. Inilah jalan yang ditempuh oleh Habib Abdurrahman: dakwah yang sekaligus menjadi praktik pemurnian jiwa.

Salah satu bukti paling nyata dari pendekatan ini terekam dalam sebuah pesan yang tak pernah dilupakan oleh Habib Ali saat pertama kali akan berdakwah. Pesan ini menunjukkan kedalaman bahasa tasawuf yang beliau gunakan.

“Jangan sekali-kali kau mengucapkan ‘Kamu’ kalau menghadapi umat. Namun perlihatkanlah kasih sayangmu kepada orang-orang yang kau akan dakwahkan.”

Nasihat sederhana ini adalah puncak dari tasawuf praktis. Ia mengajarkan untuk membuang ego, merangkul dengan kelembutan, dan menempatkan kasih sayang sebagai fondasi interaksi. Pendekatannya kepada masyarakat pun bukan sebatas memberikan pengajian atau wejangan. Beliau proaktif mendatangi umat, bahkan yang berada di tempat jauh. Lebih dari itu, kedermawanan beliau menjadi dakwah tanpa kata. Apa pun yang beliau miliki, selagi bisa diberikan, akan beliau berikan dengan penuh keikhlasan, baik kepada orang yang dikenal maupun tidak.

See also  Buku Buya Yahya Menjawab: Solusi 1000 Permasalahan Agama

Inilah mengapa Habib Abdurrahman Assegaf begitu dihormati dan dikenang sebagai sosok ‘Sufi Amali’. “Karena tutur kata almarhum dengan perbuatan seirama dan senafas,” tegas Habib Ali. Keselarasan antara ucapan dan tindakan inilah yang mengangkat derajatnya di sisi Allah SWT dan membuatnya disegani oleh para ulama, baik di tingkat lokal maupun internasional.

Warisan Abadi dalam Kesederhanaan dan Keteladanan

Pengamalan tasawuf Habib Abdurrahman terlihat jelas dalam kesehariannya. Kesederhanaan hidup menjadi pilihan beliau. Kualitas ibadahnya pun luar biasa. Habib Ali menggambarkan bagaimana cara shalat ayahnya hingga akhir hayat begitu meneladani Rasulullah SAW, sampai-sampai orang awam yang melihatnya akan merasa lelah. Mulai dari wudhu yang begitu tartil, shalat yang khusyuk, hingga cara mengajarnya yang sangat menyentuh kalbu.

Setiap perkataannya diucapkan dengan lembut, satu per satu, begitu jelas dan logis. Inilah sebabnya, meski telah puluhan tahun berlalu, nasihat-nasihat beliau masih melekat kuat di ingatan para muridnya. Sebuah pengajaran atau dakwah hanya akan abadi jika sang pengajar telah mempraktikkan apa yang ia ucapkan. Habib Ali mencontohkan tentang merokok; banyak murid beliau tidak merokok karena melihat guru mereka, Habib Abdurrahman, tidak pernah merokok. Keteladanan adalah metode dakwah yang paling kuat.

Meskipun warisan utamanya adalah akhlak dan ucapan yang tulus, beliau juga meninggalkan beberapa karya tulis berbentuk nazham (sajak dalam bahasa Arab). Karya-karya tersebut menjadi saksi bisu atas kedalaman ilmu dan spiritualitas beliau, di antaranya:

  • Hilyatu al-Janan fi Hadi al-Quran (dalam bahasa Sunda)
  • Safinah as-Said fi Ilmi at-Tauhid
  • Bunga Melati

Tanya Jawab Seputar Tasawuf Amali Habib Abdurrahman

Apa inti dari pendekatan dakwah tasawuf Habib Abdurrahman Assegaf?

Inti pendekatannya adalah ‘Tasawuf Amali’ atau tasawuf praktis. Artinya, dakwah tidak hanya disampaikan lewat lisan, tetapi yang utama adalah melalui perbuatan, akhlak mulia, keteladanan, dan keselarasan antara kata dan tindakan. Beliau menjadikan seluruh hidupnya sebagai media dakwah.

See also  Gerakan Koin NU: Ketika Infak Receh Jamaah Membangun Rumah Sakit dan Martabat Umat

Siapakah Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad yang menjadi rujukan beliau?

Imam Al-Haddad adalah seorang ulama besar, sufi, dan pembaru dari Hadramaut, Yaman, pada abad ke-17. Beliau dikenal sebagai ‘Shahibur Ratib’ karena menyusun wirid Ratib Al-Haddad. Ajarannya dalam Thariqah Alawiyah sangat menekankan pada tasawuf yang bersih, praktis, berfokus pada perbaikan akhlak dan ibadah sesuai syariat, serta mudah diamalkan oleh masyarakat luas.

Apa makna dari ‘Sufi Amali’ yang disematkan pada beliau?

‘Sufi Amali’ berarti seorang pengamal tasawuf yang spiritualitasnya tidak berhenti pada pengetahuan atau teori, melainkan terwujud nyata dalam setiap amal perbuatan, ibadah, dan interaksi sosialnya. Perilakunya adalah cerminan langsung dari keadaan batinnya yang bersih.

Apa pelajaran terpenting dari nasihatnya untuk tidak menggunakan kata ‘Kamu’?

Pelajaran terpentingnya adalah tentang adab dan ruh dalam berdakwah. Dengan menghindari kata ‘kamu’ yang bisa terdengar menghakimi atau menciptakan jarak, seorang pendakwah diajarkan untuk menggunakan bahasa yang merangkul, penuh kasih sayang, dan menempatkan dirinya setara dengan umat. Ini adalah praktik nyata dari sifat rendah hati dan rahmat bagi sesama.


✨ Rekomendasi Pilihan Editor

Koleksi Spesial Majelis (Pilihan Editor)

🛒 Cek Penawarannya Disini

Leave a reply

Enable Notifications OK No thanks