Hikmah Pertemuan Habib Yaman-Indonesia: Saat Doa Ulama Hadhramaut Menggetarkan Al Bahjah

Saat Cahaya Hadhramaut Menyapa Jantung Kalimantan

Bagi para penuntut ilmu di Indonesia, Hadhramaut di Yaman adalah sebuah oase spiritual. Lembah yang diberkahi itu telah melahirkan ribuan ulama dan auliya yang sanad keilmuannya menyambung hingga ke Nusantara. Namun, jarak ribuan kilometer seringkali menjadi penghalang, menyisakan kerinduan akan bimbingan dan keberkahan majelis mereka.

Kerinduan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan kebutuhan spiritual untuk menyambungkan kembali mata rantai keilmuan dan merasakan nuansa bimbingan pewaris Nabi secara langsung. Namun, rahmat Allah SWT seringkali datang dengan cara yang tak terduga. Terkadang, bukan kita yang mendatangi sumber cahaya itu, melainkan cahaya itu yang dihadirkan langsung ke hadapan kita.

Inilah kilas balik dari sebuah pertemuan mulia yang pernah terjadi di Pondok Pesantren Al Bahjah Kubu Raya, Kalimantan Barat—sebuah momen yang menjadi penawar dahaga spiritual dan peneguh semangat dakwah.

Pertemuan Dua Samudera Ilmu dari Yaman dan Indonesia

Momen bersejarah itu adalah kunjungan Al Habib Muhammad bin Sholeh Alattas, Mudir (Direktur) Rubath Alfatah dari Huraidhoh, Hadhramaut, Yaman, ke Pondok Pesantren Al Bahjah Kubu Raya. Beliau disambut dengan penuh suka cita oleh shahibul bait, Al Habib Ali Al Hinduan, Pengasuh Ponpes Al Bahjah Kubu Raya.

“Ahlan wa Sahlan wa Marhaban! Selamat datang Al Habib Muhammad bin Sholeh Alattas di pondok kami tercinta Albahjah Kubu Raya.”

Ucapan hangat dari Al Habib Ali Al Hinduan tersebut mewakili kegembiraan seluruh santri dan keluarga besar Lembaga Pengembangan Dakwah Al Bahjah. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan bertemunya dua samudera ilmu yang terhubung oleh ikatan mahabbah dan sanad keilmuan yang agung. Kehadiran seorang alim dari Hadhramaut adalah transfer keberkahan, penguatan spiritual, dan penegasan bahwa jalan dakwah yang ditempuh berada dalam naungan ridha Allah SWT.

See also  Kisah Gerakan Koin NU: Dari Sragen untuk Kemandirian Ekonomi NU

Doa dan Pesan untuk Dakwah di Era Digital

Dalam kunjungannya, Al Habib Muhammad bin Sholeh Alattas mendoakan secara khusus pondok pesantren, para pengasuh, santri, dan seluruh pejuang dakwah di dalamnya. Doa dari lisan seorang ulama adalah senjata spiritual yang dampaknya melampaui ruang dan waktu.

Salah satu momen paling berkesan adalah ketika beliau mengunjungi studio RadioQU Pontianak yang berada di lingkungan pesantren. Di tengah perangkat siaran modern, beliau memberikan sebuah pengakuan yang luar biasa:

“Inilah Dakwah Yang Sesungguhnya.”

Ucapan singkat ini memiliki makna yang sangat dalam. Ia menjadi legitimasi bahwa memanfaatkan teknologi modern untuk menyebarkan kebaikan adalah bagian dari jihad dakwah di era sekarang. Ini adalah pesan bahwa esensi dakwah terletak pada kemurnian niat dan kebenaran konten, bukan pada mediumnya. Ucapan tersebut menjadi suntikan semangat bagi tim dakwah Al Bahjah untuk terus berinovasi menyebarkan ajaran Rasulullah SAW, sejalan dengan bimbingan Guru Mulia Buya Yahya dan Al Habib Ali Al Hinduan.

Mengenal Sosok Al Habib Muhammad bin Sholeh Alattas

Al Habib Muhammad bin Sholeh Alattas adalah seorang ulama kharismatik dari Hadhramaut, Yaman. Beliau menjabat sebagai Mudir (Direktur) Rubath Alfatah di Huraidhoh, sebuah institusi pendidikan Islam tradisional yang telah melahirkan banyak ulama. Kedudukan beliau sebagai pimpinan sebuah rubath di Hadhramaut menunjukkan kedalaman ilmu serta kemuliaan nasabnya yang bersambung kepada Rasulullah SAW.

Memperkuat Ikatan Spiritual Hadhramaut-Indonesia

Hubungan keilmuan antara Hadhramaut dan Indonesia telah terjalin selama berabad-abad. Pertemuan seperti ini berfungsi untuk memperbarui dan memperkuat ikatan spiritual tersebut. Ini adalah momen untuk menyambung sanad, saling mendoakan, dan berbagi pengalaman dakwah. Bagi sebuah pesantren di Indonesia, kunjungan ulama Hadhramaut adalah sebuah kehormatan besar dan pengakuan atas perjuangan mereka dalam menjaga kemurnian ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

See also  Jejak Dakwah Habib Umar bin Hafidz: Gema Kelembutan di Indonesia

Kunjungan ini meneguhkan bahwa jalan dakwah yang moderat, berlandaskan ilmu, dan penuh cinta kasih adalah jalan yang benar dan diakui. Lebih dari itu, pengakuan beliau terhadap penggunaan media modern menjadi inspirasi bagi para dai untuk tidak ragu berdakwah secara kreatif dan inovatif, selama tetap berpegang teguh pada koridor syariat.

Leave a reply

Enable Notifications OK No thanks