Habib Umar bin Hafidz menutup rangkaian kegiatan musim Mu'tah di Darul Anwar, Amman, Yordania. Beliau menyampaikan pengajian mengenai hakikat tujuan kepada Allah SWT dan makna mendalam dalam agama.
Ringkasan: Dalam pengajian penutupan musim Mu'tah di Amman, Habib Umar bin Hafidz menjelaskan rahasia tujuan hidup kepada Allah SWT. Beliau meneladani sikap para syuhada Mu'tah yang melepaskan keterikatan duniawi serta menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan Nabi Muhammad SAW.
Kabar ini diunggah kanal resmi Habib Umar bin Hafidz pada Sabtu, 7 November 2026.
Hakikat Tujuan kepada Allah
Habib Umar bin Hafidz menyampaikan pengajian bertajuk hakikat tujuan kepada Allah dan makna luasnya dalam agama pada malam Selasa, 23 Jumadil Awal 1448 H. Beliau menguraikan rahasia tujuan yang jujur kepada Allah SWT yang tercermin dalam sikap para syuhada Mu'tah, terutama Sayyidina Ja'far bin Abi Thalib.
Beliau menjelaskan bagaimana para syuhada tersebut berhasil membebaskan diri dari keterikatan dunia dan hawa nafsu. Mereka menunjukkan kejujuran dalam meniatkan segala sesuatu kepada Allah serta meneladani Rasulullah SAW.
Menjaga Hubungan dengan Nabi
Dalam kesempatan tersebut, Habib Umar bin Hafidz mengingatkan besarnya karunia Allah kepada umat Islam melalui pengutusan Nabi Muhammad SAW. Beliau menjelaskan proses perpindahan umat dari kesesatan yang nyata menuju kedudukan sebagai umat terbaik.
Beliau menyampaikan bahwa hubungan dengan Nabi Muhammad SAW tetap menjadi pintu kasih sayang, petunjuk, dan kedekatan kepada Allah meski telah berlalu lebih dari empat belas abad. Beliau juga menekankan keutamaan bershalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kesinambungan hubungan tersebut.
Penjelasan Redaksi: Memahami Hakikat Tujuan kepada Allah
Peristiwa Mu'tah merujuk pada sebuah pertempuran bersejarah yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan dakwah Islam. Dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama'ah, mengenang para syuhada Mu'tah bukan sekadar menilik sejarah peperangan, melainkan upaya mengambil pelajaran tentang ketulusan niat dan pengorbanan demi meraih keridaan Allah SWT. Para syuhada tersebut dipandang sebagai teladan dalam melepaskan keterikatan hati dari urusan duniawi demi mencapai derajat kedekatan dengan Sang Pencipta.
Hubungan dengan Nabi Muhammad SAW merupakan inti dari keberagamaan umat Islam. Dalam pengajian-pengajian yang membahas hal ini, shalawat dan salam dipahami sebagai sarana untuk menjaga keterikatan batin dan kasih sayang kepada Rasulullah SAW. Praktik ini menjadi cara bagi umat untuk terus meneladani akhlak mulia beliau, sehingga petunjuk agama tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari meski zaman terus berganti.
Penjelasan umum dari redaksi Majelis.info, bukan bagian dari pesan Habib Umar bin Hafidz.
Baca juga: Mengaji Kitab Hadiyyat al-Muslim di Amman, Habib Umar bin Hafidz Kupas Hakikat Rukun Islam dan Iman
Sumber Foto & Berita: Channel Resmi Al-Habib Umar bin Hafidz / t.me/HabibOmar — tautan berita asli, tautan pendukung 1
Catatan Redaksi: Artikel ini kami susun berdasarkan unggahan kanal resmi beliau. Bila terdapat kekeliruan, silakan ajukan koreksi ke redaksi@majelis.info atau WA 08999150143. Jazakumullah khairan katsiran.