Menyelami Kedalaman Munajat di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
TARIM, YAMAN – Malam-malam terakhir bulan suci Ramadan adalah puncak dari perjalanan spiritual seorang hamba. Di antara malam-malam ganjil yang dinanti, malam ke-26 memiliki keistimewaan tersendiri, menjadi gerbang menuju penghujung madrasah ruhani ini. Di tengah kesyahduan malam tersebut, Al-Allamah Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz memimpin umat dalam munajat yang mendalam melalui doa Qunut salat Witir, Ahad malam, 26 Ramadan 1447 H.
Doa yang dilantunkan kali ini bukan sekadar permohonan ampunan dan surga, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang salah satu sifat agung hamba-hamba pilihan Allah (Ibadurrahman), sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 73:
(وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا)
“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.”
Ayat ini menjadi poros utama doa beliau, mengajak kita untuk memohon kepada Allah agar dikaruniai kualitas spiritual yang paling esensial: hati yang hidup, pendengaran yang sadar, dan penglihatan yang tembus pandang terhadap kebenaran wahyu-Nya.
Hati yang Mendengar, Mata yang Melihat
Dalam munajatnya, Habib Umar menguraikan betapa besar karunia Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Karunia itu bukanlah harta atau jabatan, melainkan hati yang mampu mengagungkan Allah, perintah-Nya, dan wahyu-Nya. Hati yang ketika diperingatkan dengan ayat-ayat Allah, ia segera melihat, mendengar, khusyuk, tunduk, dan patuh.
Beliau memohon dengan khusyuk:
اللَّهُمَّ إنَّكَ فيمَنْ تَخْتارُ من عبادِك مَن تَمْنَحُهم قلوباً تُعظِّمُك، وتُعَظِّمُ أمرَك وتُعَظِّمُ وحيَك وكتابَك، فإذا ذُكِّرَتْ بآياتِك أبصرتْ، وإذا ذُكِّرَتْ بآياتِك سَمِعَتْ، وإذا ذُكِّرَتْ بآياتِك خشعَتْ وذلَّتْ وخضعتْ…
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau memilih di antara hamba-hamba-Mu, mereka yang Engkau anugerahi hati yang mengagungkan-Mu, mengagungkan perintah-Mu, mengagungkan wahyu-Mu dan kitab-Mu. Maka, apabila ia diingatkan dengan ayat-ayat-Mu, ia pun melihat. Apabila ia diingatkan dengan ayat-ayat-Mu, ia pun mendengar. Dan apabila ia diingatkan dengan ayat-ayat-Mu, ia pun khusyuk, tunduk, dan patuh…”
Permohonan ini adalah cerminan dari kesadaran bahwa di zaman yang penuh dengan kebisingan informasi dan distraksi visual, banyak telinga yang mendengar namun tidak menyimak, dan banyak mata yang melihat namun tidak merenung. Menjadi “tuli dan buta” terhadap ayat Allah bukan hanya tentang ketidakmampuan fisik, tetapi lebih kepada ketidakmampuan spiritual untuk menyerap dan merespons petunjuk ilahi. Inilah penyakit Ghaflah (kelalaian) yang mematikan hati.
Habib Umar melanjutkan doanya dengan memohon secara spesifik agar dijadikan hamba yang memiliki pendengaran yang luas (wasi’i as-sam’i) dan penglihatan yang tajam (wasi’i al-bashar) di hadapan ayat-ayat Allah dan sabda-sabda Nabi Muhammad SAW. Sebuah permintaan untuk tidak hanya memahami teks secara harfiah, tetapi juga menangkap cahaya, makna, dan hikmah yang terkandung di dalamnya.
Fondasi Doa dari Al-Qur’an dan Sunnah
Sebelum merangkai munajat yang indah ini, Habib Umar memulainya dengan untaian doa-doa Rabbana yang masyhur dari Al-Qur’an. Doa-doa ini menjadi fondasi yang kokoh, mencakup permohonan rahmat, keteguhan hati, ampunan, serta kebaikan dunia dan akhirat. Di antaranya:
- (رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا) – “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahf: 10)
- (رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ) – “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imran: 8)
- (رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ) – “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Setelah itu, dilanjutkan dengan doa Qunut Witir yang ma’tsur, “Allahummahdina fiiman hadait…”, yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Rangkaian ini menunjukkan adab berdoa seorang alim rabbani: memulai dengan pujian dan doa-doa terbaik dari Al-Qur’an dan Sunnah, baru kemudian menyampaikan hajat spesifik yang lahir dari perenungan mendalam.
Puncak Harapan di Akhir Ramadan
Doa Habib Umar di malam ke-26 Ramadan ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang tujuan sejati dari ibadah di bulan suci ini. Puasa, tarawih, tilawah, dan semua amal kebaikan seharusnya berfungsi untuk melembutkan hati, menajamkan pendengaran batin, dan membuka mata hati kita terhadap keagungan Allah SWT.
Lantunan beliau yang mengulang-ulang panggilan “Ya Rabbana, Ya Rabbana…” menunjukkan puncak kerendahan dan harapan seorang hamba di hadapan Rabb-nya. Beliau memohon agar anugerah agung ini—menjadi bagian dari Ibadurrahman yang tidak tuli dan buta—dijadikan sebagai hadiah istimewa dari Allah di bulan Ramadan ini.
Semoga kita dapat meneladani kedalaman munajat ini, tidak hanya di sisa malam-malam Ramadan, tetapi juga di sepanjang sisa hidup kita. Semoga Allah menganugerahi kita hati yang hidup, telinga yang mendengar, dan mata yang melihat kebenaran, sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang melewati ayat-ayat-Nya dalam keadaan lalai, tuli, dan buta. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Sumber rujukan: https://omr.to/duaa260947