Ilustrasi suasana majelis taklim Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) di masjid yang khidmat. Terlihat Al-Quran terbuka di atas rehal dan tumpukan kitab rujukan diletakkan di atas meja kecil, mencerminkan adab memuliakan ilmu.

Ahlussunnah wal Jama’ah: 4 Landasan Utama & Amalan Lengkap Aswaja

Oleh: Muhamad Yusup (Cupi)
Sumber: Catatan Pengajian Majlis Ta’lim Nurul Musthofa

Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) bukan sekadar nama golongan, melainkan jalan lurus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Di tengah banyaknya aliran saat ini, sangat penting bagi kita untuk memahami apa itu Aswaja agar tidak salah arah.

Apa Itu Ahlussunnah wal Jama’ah?

Istilah Ahlussunnah wal Jama’ah merujuk pada hadis Rasulullah SAW tentang kondisi umat Islam. Beliau bersabda:

“Umatku akan terbagi menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Al-Jama’ah” (dalam riwayat lain disebutkan: “Mereka yang mengikuti apa yang aku dan para sahabatku jalani hari ini”).

(HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Secara bahasa, Ahlussunnah berarti pengikut Sunnah (ajaran) Nabi, dan Al-Jama’ah berarti pengikut para sahabat Nabi serta ulama yang bersatu dalam kebenaran.

4 Landasan Utama Aswaja

Dalam menjalankan ajaran agama, Ahlussunnah wal Jama’ah berpegang teguh pada empat dasar hukum utama sebagai panduan:

LandasanPenjelasan
1. Al-Qur’anKitab suci utama sebagai sumber segala hukum Islam.
2. HaditsPerkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW.
3. Ijma’Kesepakatan para ulama mujtahid dalam suatu hukum setelah wafatnya Nabi.
4. QiyasMenyamakan hukum suatu perkara baru dengan perkara lama karena adanya kesamaan alasan hukum (illat).

Silsilah Keilmuan: Siapa Saja Golongan Aswaja?

Banyak golongan mungkin mengklaim nama Aswaja, namun ciri utamanya adalah ketersambungan ilmu (sanad) yang terjaga:

  1. Nabi Muhammad SAW dan Para Sahabat: Pondasi awal ajaran Islam.
  2. Tabi’in: Generasi yang belajar langsung dari para sahabat.
  3. Tabi’it Tabi’in: Generasi yang belajar dari para Tabi’in.
  4. Ulama Sholihin: Para pewaris Nabi yang menjaga ajaran ini hingga sekarang, termasuk pengikut Empat Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali).
READ  Kajian Aswaja Buya Yahya, Idrus Ramli, Luthfi Bashori "Sunni Islam"

Tokoh Besar Pemersatu Ahlussunnah wal Jama’ah

Untuk lebih memahami jalan Aswaja, kita perlu mengenal dua tokoh besar yang menjadi “lampu penerang” bagi umat, terutama bagi kita di Indonesia:

1. Imam Syafi’i: Sang Penengah yang Cerdas

Imam Syafi’i adalah salah satu dari empat imam mazhab yang paling banyak diikuti di Indonesia. Beliau dikenal sangat cerdas karena berhasil menggabungkan antara teks Al-Qur’an (wahyu) dengan akal pikiran yang sehat.

Beliau mengajarkan kita bahwa beragama itu harus punya dasar yang kuat, tapi juga tetap bisa dijalankan dengan tenang sesuai kondisi zaman. Salah satu pesan beliau yang sangat terkenal adalah pentingnya menjaga adab sebelum mencari ilmu. Inilah kenapa dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, menghormati guru dan kitab adalah hal yang utama.

2. Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad: Penuntun Hati

Jika Imam Syafi’i membimbing kita dalam tata cara ibadah (fiqih), maka Al Habib Abdullah Al Haddad membimbing hati kita melalui akhlak dan dzikir. Beliau dijuluki sebagai Syaikhul Islam dan Quthbud Da’wah.

Karya beliau yang paling fenomenal adalah kitab Nashoihuddiyyah (Nasihat-Nasihat Keagamaan). Di dalam kitab ini, beliau menjelaskan dengan sangat lembut bagaimana caranya agar kita tetap istiqomah di jalan Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau juga penyusun Ratib Al-Haddad, kumpulan doa dan dzikir yang hingga kini dibaca oleh jutaan umat Muslim untuk mendapatkan perlindungan dan ketenangan jiwa.

Dengan mengikuti bimbingan para ulama seperti mereka, kita tidak akan mudah terombang-ambing oleh aliran-aliran baru yang seringkali menyalahkan tradisi lama tanpa dasar yang kuat.

Amalan-Amalan Ahlussunnah wal Jama’ah

Di Indonesia, ajaran Aswaja sangat erat dengan amalan yang menyejukkan hati dan mempererat silaturahmi, seperti:

  • Pembacaan Maulid: Mengagungkan sejarah dan akhlak Nabi Muhammad SAW.
  • Doa Qunut: Permohonan perlindungan saat shalat Shubuh.
  • Tahlil, Ratib, dan Dzikir: Sarana mengingat Allah dan mendoakan ahli kubur.
  • Ziarah Kubur & Haul: Menghormati jasa para Wali dan ulama serta mengingat akhirat.
READ  Benarkah Tahlilan Diharamkan Dalam Kitab I’anatut Thalibin ?

Kesimpulan: Menjaga Aqidah di Akhir Zaman

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fatihah ayat 6: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Para ulama sepakat bahwa jalan yang lurus adalah jalan para Nabi dan orang-orang shalih.

Kita harus berhati-hati terhadap golongan yang dapat menyesatkan umat karena kurangnya pemahaman agama. Mempelajari kitab-kitab muktabar, seperti karya Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad (Nashoihuddiyyah), adalah langkah bijak agar aqidah kita dan keluarga tetap terjaga dalam lindungan Allah SWT.

Leave a reply

Enable Notifications OK No thanks