Mengenal Festival Banjari: Seni Dakwah yang Menjadi Ajang Kompetisi
MA Roudlotul Muta'abbidin, Jalan Raya Payaman, Gayam, Payaman, Lamongan Regency, East Java, Indonesia
Description
Apa Itu Seni Al-Banjari?
Hadrah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Banjari adalah sebuah kegiatan membaca selawat yang diiringi dengan alat musik terbang (rebana). Seni Al-Banjari memiliki ciri khas irama yang dinamis, menghentak, dan bervariasi. Kesenian religius kontemporer ini merupakan variasi dari kesenian hadrah yang dipelopori oleh Abdul Karim Al Banjari pada era 90-an. Perbedaan utama antara hadrah tradisional dan Al-Banjari terletak pada karakter pukulan rebana dan aransemen vokal yang lebih modern.
Awalnya, Al-Banjari berfungsi sebagai media dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan agama dan sosial budaya melalui lantunan zikir atau selawat. Karena keunikan dan semangatnya, kesenian ini menjadi sangat populer di kalangan santri hingga meluas ke masyarakat umum, khususnya di Pulau Jawa. Al-Banjari sering ditampilkan dalam berbagai acara keagamaan dan sosial seperti peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, hingga acara pernikahan dan khitanan.
Dari Dakwah Menjadi Festival (Fesban)
Seiring meluasnya popularitas Al-Banjari, masyarakat dan para pegiat seni Islam mulai mencari wadah untuk memberikan apresiasi yang lebih bernilai. Dari sinilah lahir konsep Fesban (Festival Al-Banjari), sebuah ajang kompetisi untuk menunjukkan keterampilan dalam seni Al-Banjari.
Fesban tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi antar grup hadrah dan melestarikan kesenian Islam. Dalam sebuah Fesban, terdapat tiga komponen utama yang saling berinteraksi:
- Peserta: Grup-grup Al-Banjari yang menampilkan kemampuan terbaik mereka.
- Juri: Para ahli yang menilai penampilan berdasarkan kriteria tertentu.
- Penonton: Masyarakat yang menikmati dan memberikan apresiasi terhadap setiap penampilan.
Unsur Penilaian dalam Festival Banjari
Dalam sebuah kompetisi Al-Banjari, penampilan dinilai berdasarkan beberapa unsur penting untuk memastikan kualitas dan kekhidmatan acara. Tiga unsur utama yang menjadi fokus penilaian juri adalah:
- Unsur Adab: Meliputi etika, kekompakan, dan penampilan para personel di atas panggung.
- Unsur Vokal: Mencakup kualitas suara, harmonisasi, penguasaan lagu (makhraj dan tajwid), serta penghayatan.
- Unsur Rebana: Terdiri dari variasi pukulan, keselarasan tempo, dan kreativitas dalam aransemen musik.
Contoh Penyelenggaraan: Festival Banjari di Lamongan
Salah satu contoh penyelenggaraan Fesban yang pernah digelar adalah Festival Banjari se-Jawa Timur yang diadakan oleh MA Roudlotul Muta’abbidin Lamongan dalam rangka Dies Maulidiyah ke-45 pada tahun 2023. Acara ini menjadi bukti antusiasme tinggi terhadap seni Al-Banjari di tingkat regional.
Dalam festival tersebut, beberapa aturan yang ditetapkan antara lain:
- Kompetisi dikhususkan untuk kategori Banjari Murni.
- Setiap grup dibatasi maksimal 10 orang.
- Peserta diwajibkan membawakan satu jingle bertema Dies Maulidiyah dan dua lagu bebas berbahasa Arab.
- Durasi penampilan dibatasi maksimal 10 menit.
Profil Penyelenggara: Ponpes Roudlotul Muta’abbidin
Madrasah Diniyah Roudlotul Muta’abbidin di Payaman, Solokuro, Lamongan, adalah lembaga pendidikan Islam non-formal yang berdiri sejak tahun 1979. Di bawah asuhan KH. Moh. Basthoh, lembaga ini telah berkembang pesat dengan menyelenggarakan pendidikan formal (MI, MTs, MA) dan non-formal (Madrasah Diniyah dan Tahfidzul Qur’an). Dengan fasilitas lengkap seperti masjid, asrama, laboratorium, dan klinik, pondok pesantren ini aktif dalam kegiatan syiar Islam, termasuk melalui penyelenggaraan festival seni seperti Fesban.
Event Calendar
Wednesday, 1 March 2023 - Thursday, 9 March 2023
Thursday, 16 March 2023