Jakarta, Majelis.info – Bulan suci Ramadan telah kembali menyapa, membawa jutaan harapan dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia. Ia bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah agung untuk menempa jiwa, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dalam sebuah tausiyah yang penuh hikmah, Al-Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf mengupas secara mendalam tentang hakikat kemuliaan bulan Ramadan, yang pada intinya merupakan manifestasi dari lautan anugerah Allah SWT yang tak bertepi, khususnya bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Habib Muhammad membuka tausiyahnya dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, Zat yang membentangkan anugerah-Nya kepada seluruh hamba. Beliau menegaskan bahwa karunia (fadl) Allah seringkali datang tanpa terduga, bahkan sebelum terlintas dalam benak dan pikiran kita. Ini adalah bukti betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-hamba pilihan-Nya.
Untuk menggambarkan betapa tak terbatasnya kekayaan dan kemurahan Allah, beliau mengutip sebuah hadits qudsi yang agung. “Allah SWT berfirman, ‘Wahai hamba-hamba-Ku, andaikata orang-orang yang terdahulu dari kalian, orang-orang yang terakhir dari kalian, dari bangsa manusia dan bangsa jin, berkumpul di satu lapangan, lalu semua meminta permohonannya masing-masing kepada-Ku, maka Aku akan berikan,’,” tutur Habib Muhammad.
Beliau melanjutkan, “Allah akan kabulkan semua permohonan kalian, dan hal itu tidak akan mengurangi apa yang Aku miliki kecuali seperti sebuah jarum yang dimasukkan ke dalam lautan, kemudian diangkat. Tentu, air yang menetes dari jarum itu tidak mengurangi lautan sama sekali.”
Analogi ini memberikan sebuah pemahaman mendalam: jangan pernah ragu untuk meminta kepada Allah, sebab perbendaharaan-Nya tak akan pernah habis. Bulan Ramadan adalah momentum emas di mana pintu-pintu anugerah ini dibuka selebar-lebarnya, saat setiap doa dan permohonan memiliki potensi besar untuk diijabah.
Keistimewaan Umat Nabi Muhammad SAW: Setiap Nafas adalah Berkah
Di tengah lautan anugerah yang mencakup seluruh makhluk, Habib Muhammad menekankan adanya sebuah keistimewaan yang lebih besar, yang dikhususkan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, setelah memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah), seorang mukmin diperintahkan untuk segera menyambungnya dengan shalawat kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.
“Ketahuilah, setiap nafas yang berhembus dari satu persatu daripada kita, sesungguhnya nafas yang terhembus ini dinisbahkan dengan berkahnya Baginda Besar Muhammad SAW,” jelas beliau. Ini adalah sebuah hakikat yang luar biasa. Setiap tarikan dan hembusan nafas kita, yang menjadi penopang kehidupan, adalah buah dari keberkahan sang kekasih Allah. “Andaikata kita ingin mensyukuri nikmat Allah kepada kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW, maka habislah umur kita, kita tidak akan bisa membalas jasa-jasa beliau,” tambahnya.
Maka, cara paling sederhana namun paling bermakna untuk menunjukkan rasa syukur ini adalah dengan memperbanyak shalawat. Pujian kita kepada Allah dan shalawat kita kepada Rasulullah, pada hakikatnya, akan kembali kepada diri kita sendiri. Ia menjadi sebab terjalinnya hubungan spiritual yang kuat dengan sang Nabi, sebuah ikatan yang akan menjadi penyelamat kelak.
Shalawat: Jembatan Menuju Syafaat di Padang Mahsyar
Lebih jauh, Habib Muhammad mengingatkan tentang sebuah peristiwa dahsyat di masa depan, yakni saat seluruh makhluk dikumpulkan di Padang Mahsyar. Di hadapan pintu keagungan Allah, dalam keadaan yang penuh ketakutan dan penantian, umat manusia akan mencari pertolongan.
“Dan kita pula akan berkumpul nanti dari umat Nabi Besar Muhammad SAW, akan berkumpul di hadapan Allah SWT dan kita akan meminta pertolongan melalui junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW,” ungkapnya. Inilah syafaat agung yang dijanjikan. Dan kunci untuk meraih syafaat tersebut adalah hubungan yang telah kita bangun di dunia melalui shalawat dan ittiba’ (mengikuti sunnah) kepada beliau.
Dalam konteks ini, beliau juga mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada para Salafus Shalih, para ulama terdahulu yang telah menjadi mata rantai emas, yang menyambungkan tali hubungan kita kepada Rasulullah SAW. Secara khusus, beliau menyebut jasa besar guru mulia Al-Habib Umar bin Salim bin Hafidz, yang menjadi sebab berkumpulnya majelis-majelis ilmu dan dzikir. Tak lupa, jasa tak ternilai dari pendiri Majelis Rasulullah SAW, almarhum Al-Maghfrulah Habibana Munzir bin Fuad Al Musawa, yang telah membukakan pintu hubungan rohani bagi ribuan jamaah dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.
Menutup tausiyahnya, Habib Muhammad memberikan penegasan yang penuh keyakinan. Bahwa berada di dalam majelis ilmu dan kebaikan seperti ini adalah sebuah jaminan bahwa kita berada di jalan yang benar. Beliau mengakhiri dengan optimisme, “Bahwasannya kita yakini Allah SWT akan menyempurnakan Nur (cahaya) dari Allah SWT, walaupun orang-orang di luar sana tidak menyukainya.”
Semoga di bulan Ramadan yang mulia ini, kita dapat merenungi kembali lautan anugerah Allah, mempererat ikatan cinta kita kepada Rasulullah SAW melalui lisan yang basah dengan shalawat, serta meneladani jejak para guru mulia yang telah membimbing kita menuju cahaya-Nya.
Sumber rujukan: https://www.majelisrasulullah.org/kemuliaan-bulan-ramadhan/
Parfum Karpet Aroma MASJID NABAWI , AR ROUDHOH ,Kijang kasturi | pengharum karpet Kemasan 1 liter | Parfum Karpet Wangi dan Awet | Pewangi Karpet Non ALKOHOL | pewangi karpet masjid
{“@context”:”https://schema.org”,”@type”:”Article”,”headline”:”Menggapai Kemuliaan Ramadan: Lautan Anugerah Allah dan Syafaat Rasulullah SAW”,”image”:[“https://majelis.info/wp-content/uploads/2026/03/ilustrasi-berita-1773687630.webp”],”datePublished”:”2026-03-16T19:00:31.770Z”,”author”:[{“@type”:”Organization”,”name”:”Redaksi Majelis.info”,”url”:”https://majelis.info”}]}