foto berita 1774948862 Makan dari Hasil Usahamu, Bukan Agamamu: Makna Nasihat Habib Ali Assegaf

Makan dari Hasil Usahamu, Bukan Agamamu: Makna Nasihat Habib Ali Assegaf

Makan dari Hasil Usahamu, Bukan Agamamu: Makna Nasihat Habib Ali Assegaf

Di tengah perjuangan berdakwah atau menuntut ilmu, seringkali muncul dilema tipis antara pengabdian dan penghidupan. Sebuah kegelisahan yang jika dibiarkan, dapat menggerogoti niat paling murni, mengubah ibadah menjadi profesi. Di sinilah sebuah nasihat singkat namun menggelegar dari Alhabib Ali bin Umar bin Ali Assegaf datang laksana pedang yang membelah kepalsuan.

كل بكسبك لا بدينك

“Kul bikasbika laa bidiinika”

Artinya: “Makanlah dari hasil usahamu, bukan dari agamamu.”

Mengapa Nasihat Ini Begitu Menampar?

Disampaikan oleh Pimpinan Majelis Dzikir wa Taklim Darussyifa’, pesan ini bukan sekadar untaian kata bijak. Ia adalah sebuah kompas moral yang mengingatkan tentang kehormatan (‘izzah) seorang mukmin. Nasihat ini mengajak kita untuk merefleksikan sumber rezeki kita:

  • Apakah ia berasal dari tetesan keringat, keahlian, dan kerja keras yang halal?
  • Ataukah kita, secara sadar atau tidak, tengah menyandarkan hidup pada simbol-simbol agama?

Tujuannya sangat luhur: memurnikan niat, menegakkan kemandirian, dan menjaga kesucian agama agar tidak terdegradasi menjadi alat untuk meraih keuntungan duniawi.

Makna Sebenarnya: ‘Usahamu’ vs ‘Agamamu’

Dua frasa dalam nasihat ini adalah dua kutub yang harus dipahami secara jernih untuk menjaga martabat diri dan agama.

1. Bikasbika (Dengan Usahamu)

Ini adalah seruan agung untuk membangkitkan etos kerja. Ia merupakan perintah untuk menjadi pribadi yang produktif, profesional, dan berdaya. Bekerja, berdagang, bertani, atau menawarkan jasa keahlian adalah manifestasi dari prinsip ini. Ia mengajarkan bahwa tangan di atas lebih mulia, dan kehormatan seorang lelaki terletak pada kemampuannya menafkahi diri dan keluarga dari jerih payahnya sendiri.

See also  Innalillahi, Kabar Duka: Syarifah Zainab binti Habib Ali Assegaf Wafat

2. Laa Bidiinika (Bukan Dengan Agamamu)

Ini adalah garis batas yang tegas, sebuah peringatan keras untuk tidak mengeksploitasi agama. Bukan berarti guru ngaji atau pendakwah dilarang menerima hadiah. Namun, ini adalah larangan untuk:

  • Menjadikan agama sebagai satu-satunya modal.
  • Menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah.
  • Menjadikan jubah dan sorban sebagai alat untuk memikat simpati demi mendapatkan amplop.

Ketika agama menjadi sumber utama penghasilan, ada risiko besar dakwah menjadi pesanan dan kebenaran enggan disampaikan karena takut kehilangan “jamaah pasar”.

Teladan Para Salafus Shalih: Ulama Sekaligus Pekerja Keras

Pesan Habib Ali Assegaf ini adalah gema dari prinsip hidup yang telah dicontohkan oleh para ulama terdahulu. Mereka adalah lautan ilmu, namun kaki mereka tetap menapak di bumi, tangan mereka sibuk bekerja.

  • Imam Abu Hanifah: Sang raksasa fikih yang juga seorang pedagang kain sukses di pasar Kufah.
  • Imam Laits bin Sa’ad: Ahli hadis terkemuka yang merupakan saudagar kaya raya dan sangat dermawan.
  • Abdullah bin Mubarak: Seorang ulama zuhud yang juga dikenal sebagai pebisnis andal.

Mereka mengajarkan pelajaran abadi: kemandirian ekonomi adalah pilar yang menopang kemurnian dakwah. Dengan memiliki penghasilan sendiri, lisan mereka bebas menyuarakan kebenaran tanpa takut pada siapapun, karena mereka tidak makan dari pemberian manusia.

Nasihat yang ditutup dengan kalimat hangat “Semangat kawan 😄” ini adalah panggilan untuk kembali pada ruh kemandirian, menghargai setiap tetes keringat, dan menempatkan agama pada singgasananya yang mulia. Mari sambut seruan ini dengan semangat membara untuk bekerja, berkarya, dan berdaya.


Spesial Majelis

Cartiera Omar Baju Koko Pria Kemeja Lengan Panjang Baju Muslim Premium Regular Fit

🛒 Cek Promo Spesial

See also  Dakwah di Era Digital? Temukan Jemaah 10x Lebih Banyak!
Leave a reply

Enable Notifications OK No thanks