Syekh Muhajirin Amsar Ad-Dary: Samudera Ilmu dari Betawi, Penulis 32 Kitab Monumental
Jl. KH. Mas Mansyur No.91, RT.002/RW.002, Bekasi Jaya, Bekasi City, West Java, Indonesia
Description
Di tengah derasnya arus informasi, sering kali kita lebih akrab dengan ulama mancanegara namun justru asing dengan mutiara ilmu dari tanah air sendiri. Salah satunya adalah Syekh Muhammad Muhajirin Al-Amsary Ad-Dary, seorang ulama Betawi produktif yang warisan keilmuannya terabadikan dalam puluhan karya monumental.
Keterputusan dari akar sejarah ini dapat membuat kita kehilangan kompas inspirasi. Namun, momentum seperti Haul ke-21 Syekh Muhajirin yang diselenggarakan di Pondok Pesantren An-Nida Al-Islamy, Bekasi, menjadi pengingat kolektif. Momen tersebut mengajak kita untuk kembali menelusuri jejak emas sang guru, seorang pewaris Nabi yang menjadi samudera pengetahuan dan teladan nyata tentang cinta pada ilmu.
Mengenal Syekh Muhajirin Amsar Ad-Dary: Mutiara dari Betawi
Masa Kecil dan Perjalanan Menuntut Ilmu
Lahir dengan nama lengkap KH. Muhammad Muhajirin Amsar Ad-Dary pada 10 November 1924 di Kampung Baru, Cakung, Jakarta Timur, beliau tumbuh dalam lingkungan yang sangat menghargai ilmu. Ayahnya, H. Amsar bin Fiin, adalah seorang pedagang sukses keturunan jawara Betawi, sementara ibundanya, Hj. Zuhairah, berasal dari keluarga mu’allim yang menanamkan kecintaan mendalam pada ilmu agama sejak dini.
Semangat belajarnya yang membara membawanya berguru kepada sejumlah ulama terkemuka pada masanya, seperti Guru Asmat, Muallim KH Hasbiallah (pendiri Yayasan Al-Wathoniyah), KH Sholeh Ma’mun (Banten), hingga Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang). Fondasi ilmu yang kokoh inilah yang menjadi bekal perjalanannya ke tingkat selanjutnya.
Studi di Makkah dan Sanad Keilmuan
Perjalanan intelektualnya mencapai puncaknya di Tanah Suci. Pada Juli 1950, Kiai Muhajirin mendaftar di Madrasah Dâr al-‘Ulûm, salah satu institusi pendidikan terkemuka di Makkah. Di bawah bimbingan Syekh Yasin Ibn Isa al-Fadani, seorang mahaguru dan al-Musnid al-‘Âlam, bakatnya terasah dengan luar biasa. Beliau menunjukkan kecerdasan yang istimewa dengan menyelesaikan studinya hanya dalam waktu dua tahun, menjadikannya lulusan tercepat dan termuda di angkatannya pada Agustus 1951. Tidak berhenti di situ, beliau melanjutkan pendalaman ilmu hadis secara khusus kepada Syekh Yasin, hingga memperoleh sanad untuk kitab-kitab hadis induk seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan kitab-kitab Sunan lainnya.
Warisan Abadi: Samudera Ilmu dalam Puluhan Karya
Mahakarya Misbahudz Dzalam, Pelita di Tengah Kegelapan
Reputasi keilmuan Syekh Muhajirin, atau yang akrab disapa Tuan Guru Jirin, tidak dapat diragukan lagi. Salah satu mahakaryanya yang paling dikenal adalah kitab Misbahudz Dzalam. Ini bukan sekadar buku, melainkan sebuah syarah (kitab penjelas) empat jilid untuk kitab hadis hukum populer, Bulughul Maram. Dengan bahasa yang indah dan bobot ilmiah yang tinggi, karya ini berfungsi sebagai pelita yang menerangi dan memudahkan umat untuk memahami hadis-hadis Nabi SAW. Kehadiran kitab ini adalah bukti nyata kedalaman ilmunya dalam bidang hadis.
Produktif Menulis 32 Kitab Lintas Disiplin Ilmu
Produktivitasnya tak berhenti di satu karya. Menurut catatan keluarga, beliau telah menulis sekitar 32 kitab. Pembahasan ilmunya melintasi berbagai disiplin, mulai dari tafsir, nahwu, balaghah, ushul fiqih, ushulul hadits, faraid (ilmu waris), sirah nabawiyah, mantiq (logika), hingga fiqih. Beliau juga dikenal sebagai seorang pakar ilmu falak. Warisan ini menunjukkan betapa luas dan dalamnya samudera pengetahuan yang beliau miliki. Jejaknya juga terabadikan dalam dunia pendidikan melalui sang istri, Hj. Siti Hanah, pendiri pondok pesantren yang kini dikenal sebagai Ma’had An-Nida Al-Islami Bekasi, tempat di mana haulnya diperingati.
Tanya Jawab Seputar Syekh Muhajirin Amsar Ad-Dary
1. Apa karya paling terkenal dari Syekh Muhammad Muhajirin?
Karya beliau yang paling monumental adalah Misbahudz Dzalam, sebuah kitab syarah (penjelasan) setebal empat jilid atas kitab hadis ahkam Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.
2. Di mana Syekh Muhajirin menempuh pendidikan tingginya?
Beliau menempuh pendidikan tinggi di Madrasah Dâr al-‘Ulûm di Makkah Al-Mukarramah. Beliau juga secara khusus mendalami ilmu hadis kepada mahaguru Syekh Yasin ibn Isa al-Fadani.
3. Mengapa acara Haul seperti mengenang Syekh Muhajirin penting untuk diadakan?
Haul tidak hanya bertujuan untuk mendoakan almarhum, tetapi juga sebagai sarana untuk meneladani jejak keilmuan, perjuangan, dan akhlaknya. Ini adalah momentum untuk menyambungkan kembali sanad keilmuan dan inspirasi bagi generasi masa kini.
4. Selain hadis dan falak, bidang ilmu apa saja yang dikuasai oleh beliau?
Syekh Muhajirin menguasai berbagai cabang ilmu Islam, antara lain tafsir Al-Qur’an, nahwu (tata bahasa Arab), balaghah (sastra Arab), ushul fiqih, sirah nabawiyah (sejarah Nabi), mantiq (logika), dan berbagai bidang fiqih lainnya, yang tertuang dalam puluhan karyanya.
Event Calendar
Sunday, 18 June 2023