Kisah di Balik Sejarah NU: Sinergi Habaib dan Kyai yang Tak Terpisahkan

Kilas Balik Hikmah Abadi dari Citayam

Pernahkah Anda merasa resah dengan narasi di media sosial yang seolah-olah berusaha membenturkan para Habaib dengan para Kyai? Atau mungkin Anda pernah melihat tradisi amaliyah Nahdliyin yang luhur tiba-tiba dicap sesat dan bid’ah tanpa dasar ilmu yang kuat. Fenomena ini bukan sekadar perdebatan biasa; ini adalah upaya sistematis untuk menggerus fondasi spiritual dan kebangsaan kita dari akarnya.

Ketika kita lupa pada sejarah, kita menjadi seperti pohon yang kehilangan akarnya. Mudah goyah, mudah tumbang oleh badai fitnah dan perpecahan. Generasi muda terancam kehilangan jejak para ulama pendiri, sementara ukhuwah (persaudaraan) yang telah dirajut puluhan tahun lamanya terancam terkoyak oleh berita hoaks dan sentimen negatif. Tanpa pemahaman sejarah yang utuh, kita berisiko kehilangan kompas moral dan jati diri sebagai seorang Nahdliyin sekaligus sebagai bangsa Indonesia.

Untuk mengatasi keresahan ini, solusinya adalah kembali kepada sejarah. Mari kita menengok kembali sebuah pengajian sederhana namun sarat makna yang pernah dihelat oleh Majelis Ta’lim Al Ittihadul Islami Annahdliyah Citayam. Meski peristiwa itu terjadi pada April 2018, hikmah yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Fakhrurrozi, M.Psi (dari LTN PBNU) tetap relevan hingga kapan pun. Inilah pelajaran abadi tentang sinergi agung yang melahirkan Nahdlatul Ulama dan menjaga Indonesia.

Pilar Fondasi: Sinergi Habaib dan Kyai di Balik Lahirnya NU

Salah satu permata hikmah dari pengajian tersebut adalah pengingat akan hubungan tak terpisahkan antara Habaib dan Kyai dalam pendirian NU. Dr. Fakhrurrozi mengisahkan momen krusial ketika Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari melakukan istikharah untuk mendirikan jam’iyah Nahdlatul Ulama. Beliau tidak berjalan sendiri.

See also  Menyalakan Api Dakwah di Era Digital: Belajar Metode dari Buya Yahya & UAS

Mbah Hasyim berkonsultasi dan meminta pandangan kepada Habib Hasyim bin Yahya. Dengan penuh keyakinan, sang Habib memberikan restu, “Teruskan istikharohmu dan lanjutkan perjuanganmu dalam membentuk Nahdlatul Ulama.” Tak berhenti di situ, Mbah Hasyim kemudian bersilaturahmi ke Syaikhona Mbah Cholil Bangkalan. Ajaibnya, sebelum Mbah Hasyim sempat mengutarakan maksud kedatangannya, Mbah Cholil langsung berkata, “Saya setuju dengan Habib Hasyim.”

Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah bukti nyata bahwa NU lahir dari rahim spiritual yang menyatukan restu, doa, dan keilmuan dari kalangan Habaib dan Kyai. Maka, jika hari ini ada yang mencoba memisahkan keduanya, sesungguhnya mereka sedang berusaha mencabut NU dari akar kesejarahannya. Tugas kita sebagai Nahdliyin adalah sami’na wa atho’na, mendengar dan taat pada bimbingan para Habaib dan para Kyai kita.

Yaa Lal Wathon: Strategi Cerdas Semangat Nasionalisme

Pengajian ini juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi luhur, termasuk tradisi mencintai tanah air. Salah satu warisan jenius dari ulama kita adalah lagu Yaa Lal Wathon. Sebagian orang mungkin ragu menyanyikannya, khawatir dicap ‘ke-Arab-araban’ karena lirik pembukanya.

Padahal, lagu ciptaan KH. Abdul Wahab Hasbullah ini adalah sebuah mahakarya kecerdasan strategis. Di masa penjajahan Belanda, Kiai Wahab memikirkan cara membangkitkan semangat nasionalisme tanpa terdeteksi oleh penjajah. Beliau pun menggubah syair patriotik dengan awalan berbahasa Arab, sehingga Belanda tidak menaruh curiga. Isinya, yang kini telah diijazahkan secara luas oleh almarhum Mbah Maimoen Zubair, adalah pekik cinta tanah air yang setara dengan lagu-lagu perjuangan lainnya. Jangan pernah ragu menyanyikannya, karena itu adalah bukti bahwa bagi NU, hubbul wathon minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman).

See also  Guru dan Tempat Mondok Buya Yahya Pendiri Al-Bahjah: Tidak Lengkap jika Belum Kenal

Akar yang Sama: NU dan Muhammadiyah dari Rahim Keilmuan Mbah Sholeh Darat

Api perpecahan seringkali diembuskan dengan membenturkan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia: NU dan Muhammadiyah. Padahal, jika kita menelusuri sejarah, keduanya adalah saudara kandung. Pengajian di Citayam ini kembali menegaskan fakta sejarah penting: pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari, dan pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, adalah murid kesayangan dari guru yang sama, yaitu Mbah Sholeh Darat dari Semarang.

Mereka berdua sama-sama diutus untuk menimba ilmu hingga ke Mekkah. Bahkan, kitab-kitab fiqih rujukan awal di Muhammadiyah pada dasarnya sama dengan yang dikaji di lingkungan NU. Kesadaran akan akar bersama inilah yang mendorong PBNU dan PP Muhammadiyah untuk terus bergandengan tangan, salah satunya dengan bersepakat menjaga NKRI dan mengkampanyekan gerakan anti-hoaks. Tugas kita di tingkat bawah adalah merawat keharmonisan ini, bukan justru memperuncing perbedaan.

Pada akhirnya, pesan terpenting yang harus kita pegang adalah: selama Nahdlatul Ulama tegak berdiri, maka Indonesia akan tetap ada. Karena Nahdliyin, dengan ajaran Aswaja An-Nahdliyah-nya, akan selalu berada di barisan terdepan dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tanya Jawab Seputar Hikmah Sejarah NU

Mengapa hubungan Habaib dan Kyai begitu fundamental bagi Nahdlatul Ulama?

Karena NU secara historis lahir dari sinergi dan restu spiritual keduanya. Kisah istikharah Mbah Hasyim Asy’ari yang meminta pandangan Habib Hasyim bin Yahya dan mendapat isyarat langsung dari Mbah Cholil Bangkalan adalah bukti bahwa jam’iyah ini didirikan di atas fondasi kokoh persatuan Habaib dan Kyai. Memisahkan keduanya sama saja dengan mengingkari akta kelahiran NU.

Apa makna strategis di balik lagu Yaa Lal Wathon?

Yaa Lal Wathon bukan sekadar lagu, melainkan sebuah instrumen perjuangan yang cerdas dari KH. Wahab Hasbullah. Dengan menggunakan awalan berbahasa Arab, beliau berhasil menanamkan semangat nasionalisme kepada para santri dan masyarakat tanpa menimbulkan kecurigaan dari pemerintah kolonial Belanda. Ini adalah bukti bahwa ulama Nusantara mampu memadukan semangat agama dan cinta negara secara brilian.

See also  Buku Buya Yahya Menjawab: Solusi 1000 Permasalahan Agama

Bagaimana kita seharusnya memandang hubungan NU dan Muhammadiyah?

Kita harus memandang NU dan Muhammadiyah sebagai dua saudara kandung yang lahir dari rahim keilmuan yang sama. Pendiri keduanya merupakan murid dari satu guru, Mbah Sholeh Darat. Perbedaan dalam beberapa cabang (furu’iyah) tidak seharusnya menghapus akar persaudaraan yang kuat dan misi bersama untuk menjaga keutuhan umat dan bangsa.

Apa pesan utama dalam menghadapi era informasi dan hoaks saat ini?

Pesan utamanya adalah kewajiban untuk melakukan tabayun atau kroscek terhadap setiap berita yang diterima. Jangan tergesa-gesa menyebarkan informasi sebelum jelas kebenarannya dan dampaknya. Rujuklah kepada para ulama dan orang-orang yang berilmu. Menyebarkan berita yang benar dan bermanfaat adalah dakwah, sedangkan menyebarkan hoaks atau fitnah adalah dosa besar yang dapat merusak persatuan.

Leave a reply

Enable Notifications OK No thanks