Dalam sebuah kajian yang mendalam, Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc., MA., Ph.D. menyampaikan peringatan keras sekaligus nasihat bagi seluruh umat Islam, khususnya para dzurriyah (keturunan Nabi), mengenai hakikat kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT.
Nasab Mulia: Anugerah yang Menjadi Beban Jika Tanpa Taqwa
Nasab yang mulia adalah sebuah anugerah, namun Habib Rizieq menekankan bahwa nasab tanpa ketaqwaan adalah sebuah kerugian besar. Beliau memberikan peringatan tegas bahwa bagi para habaib dan dzurriyah, memiliki garis keturunan yang mulia justru membawa konsekuensi tanggung jawab yang lebih berat.
Bahkan, beliau mengutip peringatan dari para ulama Ahlusunnah wal Jamaah bahwa dosa bagi keturunan Nabi yang melakukan kemaksiatan atau kemungkaran bisa menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan mereka yang bukan keturunan Nabi. Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan nasab tidak memberikan “kekebalan” terhadap dosa, melainkan justru menuntut standar akhlak yang lebih tinggi.
“Nasabnya mulia, turunan Nabi, tapi enggak bertakwa Saudara, rugi besar! Jangan coba-coba berbuat maksiat, jangan coba-coba melakukan kemunkaran ya. Nasab Anda mulia, tapi tidak ada artinya kalau tidak diikat dengan takwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.”
Persaudaraan Iman di Atas Status Sosial
Untuk menjelaskan konsep ini, beliau mengambil teladan dari sejarah awal Islam di Madinah melalui hubungan antara Kaum Ansar (pribumi Madinah) dan Kaum Muhajirin (pendatang dari Makkah). Meskipun berbeda status asal-usul—antara penduduk asli dan imigran—Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa selama mereka beriman kepada Allah, mereka adalah saudara yang wajib saling mencintai, bersatu, dan berbagi suka maupun duka.
Standar Kemuliaan Sejati
Beliau menegaskan bahwa dalam timbangan Allah SWT, standar kemuliaan seseorang bukanlah suku, budaya, ataupun nasab, melainkan ketaqwaan. Sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Inna akramakum indallahi atqakum”
(Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa).
Bahkan, beliau memberi perumpamaan yang sangat kuat: seorang budak yang tidak jelas nasabnya, namun ia beriman, patuh, dan taat kepada Allah serta Rasul-Nya, maka kedudukannya jauh lebih mulia daripada mereka yang memiliki nasab tinggi atau kekayaan melimpah namun tidak bertakwa.
Dukungan Dakwah & Kemanusiaan
Mari bantu perjuangan dan dakwah kami melalui saluran donasi resmi berikut:
- Rekening Kemanusiaan: BSI 78 555 888 75 (Kode Bank 451) a.n Hilmi Persaudaraan Islam (Konfirmasi: Ustadz Ahmad Yani 0877 7533 9415)
- Rekening Palestina: BSI 6666 68 8811 (Kode Bank 451) a.n Komite Persaudaraan Al Aqsho
- Donasi Media & Perjuangan: BSI 7309782342 (Kode Bank 451) a.n Media Persaudaraan Islam (Konfirmasi: Ustadz Muhammad Syukron 0814 1111 9212)
Ikuti kami di media sosial untuk update terbaru:
YouTube: Official Islamic Brotherhood TV
Instagram: @officialibtv
Telegram: IBTV_Official